Tuan Parasit dan Kursi Empuknya
Di kursi empuknya ia duduk bak raja tak tertandingi, Menatap dunia dengan mata puas, tak peduli siapa yang ia rugi. Tangannya tak pernah kotor, bajunya tak pernah basah peluh, Namun singgasananya dibangun dari keringat orang yang ia teluh. Setiap datang, ia membawa senyum yang menuntut, Tak ada salam tulus, hanya “tolong” yang diucap beruntut. Lidahnya manis, tapi racun logikanya menusuk dalam, Membungkus perintah dengan kata persaudaraan yang membungkam. “Aku hanya minta sedikit,” katanya dengan nada ringan, Padahal itu selalu beranak jadi beban berkelanjutan. Hari demi hari, tanganku bekerja di bawah bayang singgasananya, Sementara ia bersandar, meneguk kemuliaan tanpa rasa salahnya. Tak ada upah, tak ada terima kasih yang berarti, Hanya tatapan puas seolah ia telah berjasa memberi arti. Yang ia beri hanyalah janji kosong yang tak pernah menetas, Dan yang ia ambil adalah tenagaku sampai habis tak berbekas. Kursinya empuk karena aku yang menjahit bantalnya, Ruangnya hangat karena aku yang menyalakan …
Posting Komentar
Ninggalin Gema Rima?
Tautan ini akan membawamu beranjak dari Gema Rima, menuju dunia yang tak kami jaga. Yakin mau kesana? - Geri OwlBert