Dendam Kesumat

lumina.lalify
Perasaan yang lama kau pendam
Kini mencuat, mengalir ke ulu hati,
naik perlahan menuju pikiran-pikiran
yang tak pernah kau izinkan hidup.
Otakmu kembali penuh,
menerka-nerka, menyusun skenario yang tak pernah benar-benar terjadi.

Apakah perasaan ini memiliki nama,
atau sekadar ilusi yang kau rawat sendiri?
Kadang kau menangis di pojok dunia,
menyetel lagu duka,
membiarkan sunyi menelan suaramu
yang terlalu lelah untuk dimengerti.

Kau mulai menghitung kemungkinan kecil—
haruskah kau membalasnya, atau tetap diam
hingga batinmu digerogoti perlahan?
Diam memang tampak dewasa,
tapi diam juga bisa berubah
menjadi racun yang membusuk di dalam dada.

Kini dendammu tak lagi kecil.
Ia tumbuh, meninggi melebihi Gunung Everest,
dan mengendap sedalam Palung Mariana.
Ia tidak berteriak,
tidak pula memohon,
hanya menunggu waktu
untuk diakui keberadaannya.

Oh, ayolah—
sekali saja rayakan dendammu.
Bukan untuk merusak,
bukan untuk menang,
hanya agar semesta berhenti
memprovokasimu dengan kesabaran palsu.

Sekali-kali, bukankah boleh kita tampil sebagai villain dalam cerita orang lain?
Bukan karena kita jahat,
melainkan karena kita lelah selalu dipaksa menjadi baik di atas luka yang tak pernah disembuhkan.

Biarlah mereka mengingatmu sebagai api, bukan abu.
Sebab hidup yang menyala,
meski dalam kebencian mereka,
tetap lebih hidup daripada hati yang mati karena terlalu lama mengalah.

Posting Komentar

Ninggalin Gema Rima?
Tautan ini akan membawamu beranjak dari Gema Rima, menuju dunia yang tak kami jaga. Yakin mau kesana?
- Geri OwlBert

Memuat..