kecamuk hati kala berpasrah,
manusia yang tengah meminta
memaksa dengan tangan menengadah.
Di antara diam yang memanjang,
ia berdiri setengah runtuh,
menahan tubuhnya sendiri
agar tak jatuh sepenuhnya.
Selemah itu kah diri ini,
tergoyah untuk sekadar berdiri,
merindu setengah hati
pada diriku yang mulai mati.
Remuk riuh menggempur diri,
tetes air mengalir deras.
Dentuman angan yang tak nyata
bersama deret kehidupan yang mematikan.
Aku, kembali ingin menyerah,
berjalan tertatih dengan penuh luka.
Tak kusangka aku tak sekuat dulu—
raga yang tersenyum indah
kini luntur sudah semuanya.
Di titik terendah itulah,
sunyi menjadi suara paling jujur,
dan malam perlahan mendekap
tanpa banyak tanya.
Ketika alarm cinta berbunyi,
alam semesta ikut andil mendampingi.
Saat angin menyelimuti malam,
bersama bintang yang amat terang,
ada harap kecil yang diam-diam bertahan.
Duduklah manusia berlumur dosa,
meminta ampunan
kepada pemilik hati teduh
yang penuh kasih sayang.
Lelah ketika dunia begitu menjeratnya
pada hati mungil yang sering tergores.
Tetes demi tetes mengalir
tanpa pernah diminta.
Kelu kata tak mampu terucap,
hanya hati yang mulai berkata,
sekadar ingin bercerita,
dengan tangan terulur meminta yang terbaik
kepada Tuhan-Nya.
Dan sebelum benar-benar tenggelam,
ia mengingat dirinya sendiri.
Dengan lirih ia berucap:
Istirahatlah sejenak, wahai kasih.
Jika perlu, mintalah rasa tanpa pamrih,
agar nanti tak tenggelam sendiri
saat mulai menyerah lagi.