Tuan Parasit dan Kursi Empuknya


Di kursi empuknya ia duduk bak raja tak tertandingi,
Menatap dunia dengan mata puas, tak peduli siapa yang ia rugi.
Tangannya tak pernah kotor, bajunya tak pernah basah peluh,
Namun singgasananya dibangun dari keringat orang yang ia teluh.

Setiap datang, ia membawa senyum yang menuntut,
Tak ada salam tulus, hanya “tolong” yang diucap beruntut.
Lidahnya manis, tapi racun logikanya menusuk dalam,
Membungkus perintah dengan kata persaudaraan yang membungkam.

“Aku hanya minta sedikit,” katanya dengan nada ringan,
Padahal itu selalu beranak jadi beban berkelanjutan.
Hari demi hari, tanganku bekerja di bawah bayang singgasananya,
Sementara ia bersandar, meneguk kemuliaan tanpa rasa salahnya.

Tak ada upah, tak ada terima kasih yang berarti,
Hanya tatapan puas seolah ia telah berjasa memberi arti.
Yang ia beri hanyalah janji kosong yang tak pernah menetas,
Dan yang ia ambil adalah tenagaku sampai habis tak berbekas.

Kursinya empuk karena aku yang menjahit bantalnya,
Ruangnya hangat karena aku yang menyalakan perapian siangnya.
Pialanya berkilau karena aku yang memolesnya tiap hari,
Namun namaku tak pernah tercatat di sejarahnya sendiri.

Ia ahli memelintir logika menjadi tali jerat,
Membuatku merasa bersalah jika menolak uluran alat.
Katanya, “Bukankah kita teman, bukankah ini ringan?”
Tapi setiap kata itu berat seperti batu yang ia lemparkan.

Ia duduk megah sambil memandangi hasil kerja tanganku,
Seperti raja yang menganggap rakyatnya hanya sekadar pelengkap takdirnya itu.
Keringatku mengalir, tapi ia menyebutnya pengabdian,
Padahal ini hanyalah perampokan dalam bungkus kebaikan.

Di ruangannya, tak ada bunyi palu atau gesekan pena,
Hanya deru nafasku yang sibuk bekerja menuntaskan pesanannya.
Ia menandatangani hasilnya seakan lahir dari idenya,
Dan aku tinggal sebagai bayangan yang tak pernah diakui keberadaannya.

Berkali-kali aku ingin berdiri dan meninggalkan kursi bayangan itu,
Namun ia pandai menabur rasa sungkan hingga kakiku beku.
Setiap aku hendak menolak, ia memoles wajah pura-pura kecewa,
Seakan aku pengkhianat atas kebaikan yang ia reka.

Tuan parasit hidup dari logika yang bengkok,
Di mana memberi tidak berarti membalas, tapi memeras tanpa sogok.
Ia menganggap kesediaanku adalah hak miliknya mutlak,
Seperti tanah jajahan yang tak boleh menolak raja yang congkak.

Tapi logika ini kejam, lebih dingin dari antartika,
Menukar jiwa dan waktu dengan ucapan yang hampa.
Dan aku mulai sadar, tak ada raja tanpa rakyat yang diam,
Tak ada kursi empuk tanpa punggung yang rela dipijak dalam.

Kini aku melihat kursinya bukan singgasana, tapi penjara,
Yang terbuat dari senyum palsu dan kata “tolong” yang memaksa sukarela.
Kekejaman logika tuan parasit tak lagi menipuku,
Karena aku tahu, melepaskan diri adalah akhir dari pemerintahannya itu.

Posting Komentar

Ninggalin Gema Rima?
Tautan ini akan membawamu beranjak dari Gema Rima, menuju dunia yang tak kami jaga. Yakin mau kesana?
- Geri OwlBert

Memuat..