Aku kembali dari celah yang pernah menelan wajahku,
Aku menutup pintu pada bayangan yang memanggil namaku.
Aku menyeret sisa tubuh yang dulu retak tanpa keluh,
Aku kini mengaku: luka itu adalah bagian dari tubuh.
Aku berjalan di trotoar yang tak lagi terasa panjang,
Aku melihat diriku sendiri tersenyum di tiap sudut ruang.
Aku menyentuhnya, dan ia tak lagi pecah jadi abu,
Aku menghirup aroma masa lampau tanpa takut membisu.
Aku berdiri di lantai kaca yang memantulkan napas,
Aku mendengar lagu duka berubah menjadi nada lepas.
Aku menutup mata dan rasa sakit mereda perlahan,
Aku membuka mata pada cahaya yang mengundang kenangan.
Aku memanggil namaku, dan suaranya kembali bulat,
Aku melihat tanganku sendiri menggenggam erat.
Aku meraihnya, tak ada lagi tarikan ke kegelapan,
Aku menatap lautan masa lalu tanpa lagi tenggelam.
Aku mengingat siapa yang dulu pertama kali hilang,
Aku tersenyum pada catatan yang akhirnya selesai walau sempat hilang.
Aku membacanya, isinya masih satu kata: “Pulang”,
Namun kini artinya: melangkah, bukan berulang.
Aku berdiri di ambang antara kaca dan udara,
Aku melihat aku duduk di pusara.
Aku menyadari aku adalah aku, luka dan bahagia,
Aku memeluk aku dan berkata: kita satu jiwa.
Aku menutup mataku, dunia tak lagi runtuh,
Aku membuka mataku, kabut pun surut perlahan luluh.
Aku bukan lagi serpihan yang berjatuhan,
Aku adalah aku, utuh, meski penuh beban.
Aku kembali menatap cermin yang dulu menelan,
Aku melihat diriku tersenyum dengan mata yang tenang.
Aku tak lagi mencari diriku yang hilang di sana,
Aku sudah menjadi aku, dan itu sudah cukup untukku di dunia.
-tamat