Di balik kaca yang remuk perlahan,
terdengar suara menjerit tanpa badan.
Ia seperti bukan aku, namun menyebut namaku,
di dalam pecahan, suaranya beku.
Suara itu tak bernada namun dalam,
bagai tangisan yang tertahan diam.
“Siapa yang retak?” bisiknya lirih,
“Apakah kau atau aku yang bersih?”
Cermin tak utuh, tapi tetap menatap,
pantulan yang hancur, masih mencoba harap.
Langkahku rapuh, tapi tetap kutempuh,
menuju suara yang terus menyeru.
Bayanganku menari di pecahan kaca,
membentuk diriku yang tak kupercaya.
Retakan membentuk jalan tak rata,
ke dalam pikir yang mulai terasa nyata.
“Kau memanggilku, atau aku tersesat?”
tanya diriku yang merasa terpikat.
Retakan bicara dengan luka sunyi,
seolah mengungkap rahasia abadi.
“Tidakkah kau ingat malam kelam?”
suara itu bertanya dengan pelan.
“Ketika kau memilih untuk lupa,
lalu kusimpan dalam luka yang hampa.”
Aku terpaku dalam bias memori,
di mana masa lalu bersuara lagi.
Ia tak membentak, hanya mengungkit,
apa yang kupendam dalam benak sempit.
Cermin retak itu menampung kisah,
tentang diriku yang bernaung gelisah.
Setiap retakan menjadi narasi,
yang tak ditulis namun terasa pasti.
“Akulah kau saat kau berhenti,
saat tangismu tak lagi kau mengerti.
Akulah suaramu yang dikubur malam,
dan kini kembali dalam senyap kelam.”
Aku berjalan di antara retak,
dengan hati waswas dan napas sesak.
Bayanganku mengikuti tanpa cela,
menyuarakan luka yang tak pernah reda.
Seketika waktu terasa genting,
antara sadar atau mimpi yang hening.
“Jika kau terus menolak mendengar,
aku akan terus mengakar.”
Suara itu bukan hantu atau sapa,
ia adalah aku yang kutinggal di sana.
Dalam cermin, aku menolak bicara,
tapi retakan mengulang segalanya.
Kini kupandangi diri yang tak sama,
pantulan yang bersuara penuh tanya.
Apakah retakan bisa diperbaiki,
atau hanya bisa diakui dan dimengerti?