Di sela napas dan bayang semu,
aku terjebak, tak tahu waktu.
Cermin di depanku tak lagi diam,
ia berbicara dalam suara kelam.
Langkahku terapung di lantai bening,
seperti kaca—retak dan dingin.
Aku berjalan namun tak bergerak,
seolah semesta menahan jejak.
Ada aku lain di balik kaca,
wajahnya luka, matanya lara.
Ia tersenyum tanpa percaya,
bagai bayangan yang ingin sirna.
"Aku bukan kamu," katanya nyaring,
suaranya patah, getir menggiring.
Tapi kurasa ia bagian dariku,
terlahir dari trauma masa lalu.
Di dinding ini tak ada arah,
utara selatan hanyalah kisah.
Cahaya menggantung tanpa sumber,
gelap di sini tak lagi hancur.
Tanganku menyentuh lapisan tipis,
antara mimpi dan dunia yang habis.
Tiap jari bergetar mengulang luka,
kenangan membentuk rupa dan suara.
Terdengar tangis dari aku kecil dulu,
tersembunyi dalam mimpi yang sepi dan pilu.
Ia duduk di bawah hujan kenangan,
menghitung harapan yang sudah hilang.
Apakah dunia ini benar ada?
Atau hanya pikiranku yang binasa?
Kedua dunia terus berselisih,
menggoda jiwaku agar bersimpuh letih.
Aku mulai lupa siapa aku,
mana nyata, mana semu.
Setiap pantulan menghakimi diam,
seperti dosa yang kembali dalam salam.
"Jika kau ingin pulang, lepaskan dirimu,"
bisik bayangan dari langit kelabu.
Namun jiwaku terlalu melekat pada luka,
dan tubuhku tertinggal di dalam pusara.
Aku tak bisa memilih dunia,
karena aku terbagi antara dua.
Cermin memanggil dengan senyum ganjil,
menawari pelarian yang tampak stabil.
Mungkin aku akan tinggal di sini,
di antara kenyataan dan ilusi.
Menjadi sosok tanpa bentuk pasti,
menghuni sunyi, selamanya sendiri.