Aku berdiri di depan satu cermin,
Menatap diriku yang terasa asing dan dingin.
Wajahnya serupa, namun penuh luka,
Mata yang kosong, jiwa yang buta.
Cermin ini telah lama kupendam,
Di balik dinding sunyi yang suram.
Tak pernah kuizinkan ia terbuka,
Karena kutakut akan apa yang ada di sana.
Kini kuberanikan diri melihat,
Dengan dada bergetar, hati yang penat.
Aku di dunia cermin berdiri tak berkata,
Namun sorot matanya mengaduk segalanya.
Aku mengulurkan tangan perlahan,
Berharap bisa menolong dari kehancuran.
Namun setiap jari berubah kabut,
Tak mampu menyentuh, hanya mengabur dan surut.
"Apa kau masih ingin pulang?" tanya dia,
Namun suara itu berasal dari dalam dada.
Bukan dari luar, bukan dari ruang,
Tapi dari batinku yang bimbang dan bimbang.
Aku melihat aku duduk di dalam,
Tersesat di ruang kelam dan diam.
Ingin kutarik dia keluar,
Namun setiap upaya berubah bubar.
Aku di dunia cermin tersenyum palsu,
Senyum yang menusuk lebih dari belati yang tajam itu.
Tak ada ampun, tak ada damai,
Hanya kehancuran yang perlahan sampai.
Aku menempelkan dahi pada kaca,
Namun cermin itu tak beri rasa.
Aku tak menyelamatkan siapa-siapa,
Hanya menambah luka yang sama.
Cermin memutar kenangan kelabu,
Tentang aku yang selalu gagal memeluk aku.
Semua cahaya pudar jadi abu,
Tak ada arah, tak ada pintu.
Aku ingin berkata, “Aku ingin pulang,”
Namun suara itu lenyap di ruang.
Aku di dunia cermin diam tanpa bicara,
Hanya menatap dengan pandangan hampa.
Aku menangis tanpa tetes,
Karena kesedihan ini sudah tak jelas.
Aku tertawa tanpa gema,
Karena dunia cermin telah menelanku semua.
Aku gagal menyentuh aku,
Karena aku pun tak tahu siapa aku.
Terjebak dalam aku di dunia cermin,
Di antara sunyi yang terus menggiring.