Di ujung jalan sunyi tanpa pelita,
Ia melangkah di bawah senja.
Mencari tenang dari hiruk kota yang bising,
Hatinya berharap menemukan dunia yang hening.
Angin desa menyapa dengan lembut,
Menenangkan jiwa yang telah lama kalut.
Ia berjalan di atas tanah penuh debu,
Menyusuri harapan yang terasa semu.
Di tikungan kecil, seseorang berdiri,
Wajahnya teduh, tersenyum berseri.
“Selamat datang,” ucapnya penuh ramah,
Membawa kehangatan yang begitu indah.
Pria itu menawarkan panduan sederhana,
Hidup di desa yang damai dan bersahaja.
Ia tunjukkan ladang hijau yang memikat,
Penuh kedamaian, jauh dari penat.
“Di sini tak perlu banyak keinginan,
Cukup hati yang penuh keikhlasan.”
Ia itu tertegun mendengar kata sang pria.
Ia akhirnya menetapkan untuk tinggal di desa.
“Bolehkah aku tinggal dan belajar darimu?”
“Sambutlah tempat ini, mari berbagi waktu.”
Hari-hari berlalu di bawah mentari,
Dua pria bertukar cerita tanpa henti.
Ia belajar hidup yang sederhana,
Sementara pria itu merasa hidupnya bermakna.
Di ujung jalan yang semula kesepian,
Lahir persahabatan yang penuh kehangatan.
Senja menutup langit dengan rona merah,
Membawa harapan yang kini merekah.
Di desa kecil penuh keheningan,
Mereka dipersatukan oleh persahabatan.