Di ujung waktu ia menatap hampa,
Hatinya terbelenggu oleh luka lama.
Setiap langkah terasa sia-sia,
Tiada arti hidup, hanya derita.
Ia memandang dunia dengan mata redup,
Segala upaya bagai angin yang menyusup.
Pekerjaan, cinta, semuanya punah,
Hanya menyisakan jiwa yang pasrah.
Harapan yang dulu menyala terang,
Kini padam, lenyap tanpa bayang.
Ia mencoba bertahan di tengah badai,
Namun takdir menertawanya dari balik tirai.
Suara hatinya kian memudar,
Keputusasaan datang bagai ular.
Menggigit sisa mimpi yang pernah hidup,
Meninggalkan luka yang dalam dan redup.
Ia merasa gagal menjadi berarti,
Setiap usaha hanya menambah perih hati.
Cinta yang diharap membawa cahaya,
Berubah menjadi bayangan yang merenggut asa.
Tak ada lagi jalan untuk melawan,
Ia menyerah pada hidup yang menyakitkan.
Segala hal yang ia kejar dan damba,
Hanya ilusi, fatamorgana yang fana.
Tatapan kosong di sudut sepi,
Memandang hidup bagai reruntuhan saksi.
Semua harapan telah terkubur,
Hanya keputusasaan yang kini mengabur.
"Apa arti hidup jika tiada makna?"
Bisiknya dalam sunyi yang begitu fana.
Dan dalam hatinya yang gelap gulita,
Ia memilih tenggelam dalam ketiadaan yang nyata.