Di sudut sepi, ia duduk sendiri,
Menghindari ramai, menjauhi sunyi.
Tak sanggup bicara, tak ingin bersua,
Hatinya terkunci, pikirannya beku tanpa suara.
Belenggu di dada kian erat mengikat,
Langkahnya terhenti, tak tahu ke mana ia mendarat.
Ia mencoba terbang ke dunia bahagia,
Namun sayapnya patah, tersungkur bersama hampa.
"Apa arti hidup?" bisiknya perlahan,
Namun tak ada jawaban, hanya kehampaan.
Pekerjaan yang ia sangka memberi arti,
Malah menjadi beban yang tak dapat ia bagi.
Ia mendamba cinta yang menyemai tawa,
Namun ia temukan kekosongan yang kian mendera.
Pasangan yang didamba menjadi cahaya,
Berubah menjadi bayang-bayang sirna.
Ia mencoba bertahan, menjadi manusia,
Namun tiap langkah, semakin ia terluka.
Hatinya rapuh, seperti kaca retak,
Kebahagiaan itu seolah kian menjauh dan berjarak.
Ia tak mengerti makna senyum yang hilang,
Hanya tahu dadanya kian sesak dan bimbang.
Berjuang menjadi seperti mereka di luar sana,
Namun ia sadar, ia hanya berdusta pada jiwa.
Di antara dunia yang terus bergerak,
Ia merasa menjadi tiada, kian tersesak.
Harapan yang redup, tak mampu menyala,
Ia tak tahu apa arti bahagia yang fana.
Pada akhirnya ia berhenti bertanya,
Mengakui dirinya telah gagal menjadi manusia.
Dalam sunyi ia duduk, termenung dan terpaku,
Menyadari hidup hanyalah ilusi yang beku.
Apa arti hidup tanpa jiwa dan rasa?
Ia tak mampu menjawab, hanya menyerah pada asa.
Dan di sudut hatinya yang terluka parah,
Ia memeluk kegagalan, seperti hujan yang pasrah.