Di bawah pohon, ia termenung sendu,
Hatinya remuk, cinta tak pernah bertemu.
Di bangku taman, ia duduk sendiri,
Meratapi nasib yang tak bertepi.
Langit kelabu ikut bersedih,
Seakan tahu luka yang ia sisih.
Angin berhembus membawa cerita,
Tentang harapan yang lama terlunta.
Ia pernah mencoba mencinta,
Namun selalu berakhir dengan luka.
Hatinya rapuh, mudah tersayat,
Setiap janji cinta berujung khianat.
"Adakah cinta sejati di dunia?"
Tanyanya lirih pada semesta.
Namun semesta diam, tak bergerak,
Hanya dedaunan jatuh berserak.
Ia mengingat wajah-wajah penuh dusta,
Yang pernah bersumpah cinta selamanya.
Namun semua itu hanya semu,
Meninggalkan jiwa yang kian layu.
Hari berlalu, ia tetap sendiri,
Menggenggam duka yang tak bertepi.
Bulan mengintip dari balik awan,
Menyaksikan jiwa penuh beban.
"Apakah salahku hingga begini?
Hidup terasa tak ada arti."
Ia menangis, tapi tanpa suara,
Hanya mata yang basah, membasuh nestapa.
Namun dalam kesunyian yang amat dalam,
Ia mendengar sesuatu yang menyusup diam.
Bisikan kecil, lembut dan samar,
"Tak semua luka harus kau hantar."
Ia menoleh, namun tiada siapa,
Hanya bayangan yang bercakap mesra.
"Kelak kau temukan cinta sejati,
Di tempat jauh, melampaui mati."
Malam itu ia terdiam membeku,
Bisikan tadi menggetarkan kalbu.
Meski hidup masih gelap dan kelam,
Ada secercah harapan di dalam malam.
Dengan langkah berat, ia pun berdiri,
Meninggalkan taman dan bangku sunyi.
Meski duka masih menghiasi dada,
Ia berjanji mencari jawab semesta.
Cinta sejati, mungkinkah ada?
Ia akan temukan, walau harus lewati dunia.