Ia mulai menerima takdir yang ada,
Hidup sendiri tanpa cinta manusia.
Meski hati kadang terasa sepi,
Ia percaya semua sudah terjanji.
Dalam kesendirian, ia temukan damai,
Merenung hidup di bawah sinar rembulan yang ramai.
Walau sering iri melihat pasangan,
Ia memilih tenang dalam kesunyian.
"Tak semua cinta datang di dunia,"
Bisiknya lembut pada semesta.
Ia mulai belajar memaafkan takdir,
Menyulam luka menjadi jalinan mahir.
Taman yang dulu penuh ratapan,
Kini menjadi tempat penuh kedamaian.
Ia duduk sambil memandang awan,
Hatinya tenang, jauh dari keluhan.
"Ada hikmah di balik semua derita,
Mungkin cinta sejati menanti di nirvana."
Ia tersenyum, meski masih merindu,
Namun hatinya tak lagi kelu.
Ia percaya Tuhan punya rencana,
Semua tertata dengan sempurna.
Hidup ini bagai mozaik berwarna,
Ada luka, ada suka, semua bermakna.
Langkahnya kini lebih ringan,
Meski sepi, tetap ia jalani dengan ketenangan.
Burung-burung bernyanyi di pagi hari,
Mengiringi jiwa yang telah berdamai diri.
Sesekali ia menatap pasangan,
Namun iri itu hanya singgah dan hilang perlahan.
Ia tahu cinta bukan hanya kebersamaan,
Tapi tentang menerima hidup dengan keikhlasan.
Malam-malamnya kini penuh doa,
Meminta Tuhan mengisi hatinya dengan cinta.
Bukan dari manusia yang fana,
Tapi dari kasih-Nya yang sempurna.
Dalam kesendirian, ia menemukan makna,
Bahwa bahagia tak selalu tentang siapa.
Kadang damai itu ada dalam diri,
Saat kita ikhlas dan berhenti mencari.
Ia menutup mata, menghirup udara,
Merasa hidup ini begitu sempurna.
"Jika ini jalan yang Kau pilihkan,
Aku terima dengan hati yang lapang."
Kini ia berjalan tanpa beban,
Menyusuri hidup dengan keyakinan.
Derana hadir di dalam jiwanya,
Membawa bahagia meski ia sendirian.