Menepi membuatku sadar…
betapa banyak suara yang selama ini kutenggelamkan.
Di hari-hari awal aku memutuskan untuk diam,
kupikir akan terasa sepi, hampa, atau membosankan.
Ternyata, sunyi tidak sesunyi itu.
Ia justru berbicara… pelan-pelan,
lewat pikiran yang selama ini kuabaikan,
lewat kenangan yang tak sempat kukemas rapi,
dan lewat luka-luka kecil yang ternyata belum sembuh.
Sunyi mengajarkanku untuk tidak selalu sibuk.
Untuk tidak selalu menyalakan notifikasi.
Untuk memeluk rasa hampa tanpa harus merasa bersalah.
Aku mulai mendengar kembali suara batinku.
Ia tidak menuntutku untuk cepat sembuh.
Ia hanya berkata, “Sudah cukup berlari, sekarang waktunya pulang.”
Kadang aku menangis tanpa alasan jelas.
Kadang aku tertawa karena ingat hal-hal kecil.
Kadang aku hanya duduk diam sambil memandangi langit sore.
Dan tak apa.
Karena di saat-saat itulah aku merasa sedang hidup.
Sunyi bukan musuh.
Ia adalah teman yang sabar.
Tempat semua rasa akhirnya berani muncul ke permukaan.
Dan aku,
akhirnya bisa mulai merasakannya satu per satu,
tanpa terburu-buru, tanpa perlu kuat setiap waktu.