Ia berjalan pulang dengan hati tenang,
Menerima takdir meski hidup tak gemilang.
Namun di tengah langkah yang ia bawa,
Kesialan datang tanpa tanda-tanda.
Sebuah mobil melaju kencang,
Menerobos jalan tanpa perlawanan.
Ia berdiri terpaku di tengah jalan,
Tak sempat menghindar dari hantaman.
Tubuhnya terlempar jatuh ke tanah,
Dunia terasa gelap, sunyi, dan parah.
Detak jantungnya perlahan memudar,
Hanya kesakitan yang terus menghajar.
"Apakah ini akhir dari perjalanan?"
Pikirnya samar dalam kegetiran.
Ia mencoba tersenyum di detik terakhir,
Namun air matanya jatuh tanpa tersingkir.
Perlahan cahaya menyelimuti tubuhnya,
Membawa jiwa pergi dari dunia fana.
Semua kenangan hidupnya berkelebat,
Seakan mengucap salam tanpa sempat.
Ia tiba di tempat yang tak dikenali,
Hening dan asing, namun terasa damai di hati.
Tiada jalan, tiada batas, hanya terang,
Namun jiwa masih terikat oleh bayang.
"Apa ini akhir ataukah awal?"
Bisiknya dalam gemetar yang kekal.
Ia merasa ringan, tak lagi terluka,
Namun hatinya tetap merindu dunia.
Hidup yang ia tinggalkan terasa fana,
Namun kenangan pahit manisnya ada di sana.
Kini ia berdiri di tempat yang sunyi,
Menanti jawaban atas takdir yang suci.
Kesialan datang dengan tiba-tiba,
Mengubah hidup tanpa peringatan belaka.
Namun ia yakin, meski dunia telah hilang dari pandangan,
Ada makna tersembunyi di balik kenyataan.
Di tempat baru ini ia mulai sadar,
Bahwa akhir dunia bukan segalanya pudar.
Ada perjalanan lain yang menantinya,
Mungkin cinta sejati telah menunggu di sana.
Dengan langkah kecil ia melangkah,
Menuju terang yang memanggil ramah.
Meski kesialan merenggut hidupnya,
Ia percaya ini awal menuju cinta sejati yang sempurna.