Laut yang Tak Pernah Tenang


Aku adalah laut yang tak pernah diam,
Menutup luka dengan gelombang yang kelam.
Orang menatapku seolah penuh cahaya,
Padahal di dasarku gelap tanpa arah dan makna.

Ombakku tertawa, menampar karang,
Namun itu sekadar sandiwara yang panjang.
Buihku seakan bernyanyi merdu,
Padahal jeritku tak pernah terdengar satu pun di kalbu.

Aku menampung kapal yang lewat tergesa,
Mereka singgah sebentar lalu sirna.
Aku berpura-pura luas dan ramah,
Padahal sunyi menggerogoti setiap celah.

Kadang angin datang membisikkan kabar,
Aku sambut dengan senyum yang samar.
Namun ketika ia pergi meninggalkan,
Aku kembali menjadi lautan kehilangan.

Aku iri pada danau yang selalu teduh,
Airnya jernih, tenang, dan tak berkeluh.
Sedang aku hanya tahu bergemuruh,
Menampakkan amarah meski hatiku rapuh.

Aku ingin jadi sungai yang punya tujuan,
Mengalir mantap tanpa keraguan.
Namun aku terjebak di samudra luas,
Hanya bisa pasrah menunggu arus yang ganas.

Mereka bilang aku kuat, tak terkalahkan,
Padahal aku sering tenggelam dalam samudra kegilaan.
Aku terlihat indah saat senja tiba,
Tapi malam membawaku ke gulita yang hampa.

Aku mencintai langit namun ia jauh,
Aku panggil dengan gelombang yang pilu.
Langit tersenyum tapi tak pernah turun,
Meninggalkanku sendiri di pelukan kabut yang turun.

Kadang perahu kecil datang mendekat,
Aku jaga dengan ombak yang hangat.
Namun ketika badai datang menggila,
Aku malah melukai tanpa sengaja.

Aku ingin berkata, “Aku rapuh,”
Namun semua hanya melihat buih.
Aku ingin jujur, “Aku lelah,”
Namun semua hanya mendengar tawa yang salah.

Aku adalah laut yang tak pernah tenang,
Menyimpan rahasia di kedalaman yang panjang.
Siapa yang berani menyelam ke dasarnya,
Akan tahu betapa gelapnya aku yang sebenarnya.

Aku terbelah antara pasang dan surut,
Bimbang apakah harus mundur atau lanjut.
Aku mencintai cahaya tapi takut menguap,
Aku benci gelap namun aku hanya bisa meratap.

Ada saat aku ingin pecah,
Menghantam pantai hingga lelah.
Namun setiap kali aku runtuh dan hancur,
Aku tetap kembali—walau luka makin makmur.

Aku bukan pahlawan, bukan tempat aman,
Aku hanyalah lautan kesepian.
Mereka berkata aku luas tak terbatas,
Padahal aku hanyalah kosong yang terjerat kutukan ganas.

Di permukaanku, kapal - kapal berlayar,
Di dasarku, hanya sunyi yang terdengar.
Di permukaanku, senyum terlihat jelas,
Di hatiku, hanya badai yang tak pernah puas.

Aku ingin diam, jadi air bening,
Namun aku selalu bergetar, selalu bising.
Aku ingin tenang, jadi sahabat bulan,
Namun aku hanyalah cermin patah kesepian.

Jika suatu hari aku pecah berkeping,
Jangan salahkan aku yang tak pernah hening.
Aku telah mencoba jadi tenang,
Tapi aku dicipta sebagai laut yang tak pernah menang.

Aku adalah laut yang tak pernah selesai,
Menyimpan rindu yang tak terurai.
Setiap ombakku adalah doa terpendam,
Setiap buihku adalah tangisan yang tenggelam.

Jangan kagumi aku karena indahku,
Dekaplah aku meski retakku.
Karena aku, laut yang tak pernah tenang,
Hanyalah jiwa yang selalu merasa hilang.

Posting Komentar

Ninggalin Gema Rima?
Tautan ini akan membawamu beranjak dari Gema Rima, menuju dunia yang tak kami jaga. Yakin mau kesana?
- Geri OwlBert

Memuat..