(Semoga) Kita Benar Merdeka


Bendera dikibarkan setinggi cakrawala,
Diiringi lagu kebangsaan yang membahana.
Sorak sorai rakyat berjejal di jalan raya,
Mengibar merah putih dengan mata berbinar bahagia.

Anak-anak tertawa memanjat batang bambu,
Tangannya kotor, jiwanya tetap lugu.
Kerupuk digantung, mulut terbuka lebar,
Tertawa riang meski hadiah sekadar sebungkus gula pasir.

Di alun-alun kota, pidato lantang bergema,
Tentang persatuan, harapan, dan cita-cita.
Para pejabat berdasi duduk berjejer,
Sorak sorai rakyat seakan menutupi getir yang menggelayut di dasar.

Panggung merdeka dihiasi tarian dan lagu,
Rakyat kecil tersenyum meski dompetnya kelu.
Janji-janji ditebar bagaikan hujan bunga,
Namun di bawah panggung, keresahan rakyat tak pernah sirna.

Kini genap delapan puluh tahun kita merdeka,
Riuh sorak terdengar dari kota hingga dusun desa.
Namun pertanyaan terpatri di hati yang gelisah,
Apakah kemerdekaan ini sungguh sudah merdeka adanya?

Semangat kemerdekaan jadi penawar kegelisahan,
Meski di sudut desa, tagihan menjerat tanpa belas kasihan.
Pajak kian naik, pungutan terus bertambah,
Beban rakyat seakan diikat tali tanpa arah.

Mereka bersorak di depan kamera yang menyorot,
Namun berbisik lirih saat pintu rumah tertutup rapat.
Merdeka katanya, bebas katanya,
Tapi bayang-bayang aturan mencekik terasa nyata.

Kuasa masih penuh bayang samar,
Kursi empuk dijaga oleh lingkar yang akrab bergetar.
Kolusi melilit bagai benang tak terurai,
Nepotisme tumbuh seperti pohon yang tak pernah habis disemai.

Sorak sorai tertiup angin malam,
Namun bisik rakyat bagai doa yang terpendam.
Korupsi menetes perlahan seperti racun,
Tak tampak di wajah, tapi melumpuhkan tubuh peradaban.

Delapan puluh tahun bukanlah waktu singkat,
Namun luka rakyat masih juga pekat.
Apakah ini merdeka yang dahulu diperjuangkan,
Atau sekadar panggung sandiwara yang terus dipentaskan?

Di gang sempit, ibu-ibu menghitung koin receh,
Sementara layar televisi menayangkan pidato penuh megah.
Di sawah, petani membungkuk mencangkul tanah,
Namun pupuk bersubsidi entah ke mana arah.

Rakyat menunggu dengan sabar di meja panjang,
Mengisi formulir, membayar pajak, menahan pasrah.
Sementara di balik layar, segelintir tertawa lega,
Menyedot manis negeri dengan gelas penuh kaca.

Sorak masih terdengar, riuh masih terasa,
Namun merdeka terasa bagai sandiwara.
Jika benar merdeka, mengapa suara rakyat tak terdengar,
Mengapa tangisnya harus selalu ditekan hingga pudar?

Delapan puluh tahun kita bangga berseru,
Namun masih banyak luka yang belum sembuh.
Rakyat kecil bertahan dengan doa dan kerja,
Sementara penguasa berkuasa dengan harta dan tahta.

Bendera tetap berkibar, meski kainnya lusuh,
Rakyat tetap berharap, meski langkahnya rapuh.
Di tiap Agustus, doa masih sama terucap,
Semoga merdeka benar-benar menjejak, bukan sekadar menguap.

Kita meriahkan bulan ini dengan lomba meriah,
Namun esok beban hidup kembali merekah.
Apakah merdeka hanya milik segelintir saja,
Sementara rakyat kecil menunggu giliran yang tak pernah tiba?

Sorak sorai hanyalah wajah di permukaan,
Di dalamnya menyimpan getir penuh pertanyaan.
Apakah kita merdeka dari belenggu saudara,
Atau masih dijajah oleh wajah yang sama?

Hari ini kita berjanji di bawah bendera,
Namun janji kerap patah di meja kuasa.
Rakyat masih setia menanti jawabannya,
Semoga kita benar merdeka.


1 komentar

  1. Penyair Sunyi
    Penyair Sunyi
    merdekaaaaaa
Ninggalin Gema Rima?
Tautan ini akan membawamu beranjak dari Gema Rima, menuju dunia yang tak kami jaga. Yakin mau kesana?
- Geri OwlBert

Memuat..