Bunga Terakhir Babak 6 - Cinta dan Kehilangan



Hari-hari cerah beriring senyum,
Dinur dan Mawar berjalan bercium harum.
Taman kecil jadi saksi cinta,
bunga bermekaran, hati pun bercahaya.

Mereka tumbuh, mereka tertawa,
setiap detik penuh makna.
Langit biru tampak berseri,
angin berhembus membawa janji.

Dinur merasa dunia berpihak padanya,
semesta ramah menghapus lara.
Ia berterima kasih pada yang kuasa,
karena Mawar hadir membawa bahagia.

Mawar tertawa, wajahnya indah,
membuat luka lama perlahan pasrah.
Hari berganti, cinta makin mekar,
Dinur merasa hidup jadi segar.

Mereka duduk di bangku taman,
memandang senja dengan hati nyaman.
Tak ada lagi kelam di jiwa,
Mawar jadi cahaya yang setia.

Namun perlahan angin berubah,
hari cerah mulai bergulir lemah.
Dinur menanti di balik jendela,
Mawar tak datang, rumah pun hampa.

Esoknya sama, tak ada kabar,
hati Dinur mulai bergetar.
Ia menunggu di depan pintu,
namun yang ditunggu tak kunjung bertamu.

Hatinya cemas, pikirannya resah,
mengapa Mawar tak lagi singgah?
Pesan tak terjawab, panggilan terdiam,
seakan dunia kembali muram.

Hari ketiga ia tak kuasa,
melangkah mencari dengan jiwa gelisah.
Ia datang ke rumah Mawar penuh tanya,
namun yang menyambut hanyalah sepi saja.

Pintu tertutup, halaman hening,
tetangga berbisik dengan nada dingin.
“Orang tuanya ke rumah sakit,
anak mereka sakit berat dan sulit.”

Dinur gemetar, langkah terguncang,
ia berlari dengan hati meradang.
Lorong rumah sakit panjang terasa,
dadanya sesak penuh prasangka.

Ia berharap Mawar baik-baik saja,
meski hatinya dipenuhi tanya.
Namun saat pintu kamar dibuka,
dunia runtuh, harapannya sirna.

Mawar terbaring tak lagi bernyawa,
wajah tenangnya beku selamanya.
Dinur jatuh bersimpuh pilu,
air matanya deras tanpa malu.

Tangannya menggenggam tubuh dingin,
jiwanya remuk, harinya hilang ingin.
Orang tua Mawar mendekat pelan,
membawa kisah yang menusuk perasaan.

“Mawar telah lama melawan derita,
kanker otak merenggut jiwa.”
Dinur terdiam, jiwanya kosong,
kata-kata itu bagai palu yang menggoncang.

“Namun sebelum pergi, ia sempat berpesan,
jangan biarkan Dinur merasa sendirian.”
Dinur menangis di sisi Mawar,
cintany hilang, jiwa pun kembali hambar.

Ia menatap wajah yang pernah berseri,
kini terbaring dalam sunyi.
Malam itu ia tak sanggup tidur,
kenangan Mawar membuatnya hancur.

Esoknya ia menuju pusara,
membawa setangkai mawar sederhana.
Ia letakkan bunga di atas tanah,
“Selamat tinggal, Mawar,” bisiknya pasrah.

Air mata jatuh membasahi bumi,
mengikat cinta yang abadi.
Bunga terakhir jadi lambang setia,
meski kehilangan membakar jiwa.

Dinur berlutut, tubuhnya gemetar,
namun cintanya tetap tegar.
Ia tahu dunia tak lagi sama,
namun Mawar hidup di dalam sukma.

Bunga yang tumbuh kini jadi kenangan,
sementara cintanya abadi dalam ingatan.

- tamat 🌹

Posting Komentar

Ninggalin Gema Rima?
Tautan ini akan membawamu beranjak dari Gema Rima, menuju dunia yang tak kami jaga. Yakin mau kesana?
- Geri OwlBert

Memuat..