Dinur perlahan keluar dari ruang yang kelam,
bersama Mawar ia temukan hari yang tenteram.
Mereka duduk di halaman menanam bunga,
cahaya pagi hadir dengan rasa yang indah.
Tangan Mawar lembut menyentuh tanah basah,
Dinur tersenyum, hatinya mulai merekah.
Hari demi hari bunga disiram dengan kasih,
tawa kecil tumbuh, luka lama pun bersih.
Mawar membawa kehangatan yang berarti,
membuat Dinur berani menatap pagi.
Ia bukan lagi bayang-bayang yang murung,
tapi jiwa muda yang kembali agung.
Dinur menatap Mawar penuh rasa,
cinta bersemi dalam jiwa yang berduka.
Mereka saling pandang di bawah langit luas,
hati keduanya menyatu tanpa sekat yang tegas.
Hari berganti, rasa kian dalam,
cinta sederhana tapi penuh salam.
Dinur berani menggenggam tangannya,
Mawar tersenyum, dunia pun cerah warnanya.
Janji kecil mereka lahir tanpa suara,
namun hati mengerti maknanya yang mesra.
Dunia terasa berpihak pada Dinur kini,
tak ada lagi murung, tak ada lagi sunyi.
Ia berterima kasih pada semesta,
karena Mawar hadir membawa cahaya.
Hatinya berbunga di setiap langkah,
tawa Mawar jadi pelita yang indah.
Mereka berjalan menyusuri senja,
cinta bersemi tanpa harus terluka.
Bunga mawar tumbuh di taman jiwa,
menjadi simbol cinta yang setia.
Dinur ceria, penuh cahaya,
hidupnya kini indah, sembuh dari luka.
Hari-hari cerah mengiringi cinta,
tak lagi terikat pada luka lama.
Ia berlari bersama senyum Mawar,
hidup berwarna, jauh dari gusar.
Cinta yang tumbuh seperti bunga,
mekar perlahan tanpa ragu menggema.
Hati Dinur penuh rasa syukur,
cinta Mawar jadi cahaya makmur.
Mereka tertawa di bawah mentari,
membiarkan cinta tumbuh tak henti.
Bunga yang tumbuh jadi lambang setia,
menghapus luka, membawa bahagia.š¹