Ketika orang-orang tak pernah melihatmu secara utuh—
Bahkan untuk sekadar menebak isi pikiranmu pun mereka enggan.
Mereka dekat, tapi terasa jauh,
Seolah dunia sengaja menaruh jarak di antara hubungan yang seharusnya saling terhubung.
Takdir membiarkanmu mengapung di lautan badai,
Sendirian, di atas kapal kecil
yang hanya cukup untuk dirimu sendiri.
Beberapa barang mungkin bisa dibawa,
Namun tak semuanya, kadang yang paling kamu butuhkan bukan yang kamu inginkan.
Hingga suatu malam,
sampanmu berlabuh di lautan yang tenang.
Matamu menangkap cahaya bulan purnama
dan bintang-bintang yang menemaninya.
Kamu berbisik dalam hati,
“Suatu hari nanti,
mungkin aku bisa menjadi seperti bulan yang ditemani bintang, atau matahari yang dijaga awan selembut sutra.”
Harapan demi harapan kamu tanam,
hanya untuk sekadar bertahan hidup.
Namun dari benih kecil itu,
muncul bara api di hati yang telah kering dan berwarna abu.
Dalam perjalanan panjang itu,
yang kamu temukan hanyalah setitik warna putih
di atas kanvas hitam yang kelam—
seolah cat tumpah tanpa sengaja.
Tapi bagimu, itu berarti.
Sebab artinya semesta masih mengirim cahaya kecil,
masih menuntun langkahmu,
masih berkata bahwa kamu berarti.
Perjuanganmu memang berat,
namun percayalah—
bahwa sekecil apa pun cahaya itu,
ia tetap mampu menyalakan kebahagiaan untuk dirimu sendiri.
Kini kamu tak perlu lagi membaginya pada siapa pun.
Cukup untukmu, untuk langkahmu, nyawamu,dan untuk rasa aman yang diam-diam masih kamu butuhkan.