September datang membawa cahaya,
sejak hadirmu, duniaku terasa berbeda.
Senyummu sederhana, namun penuh makna,
membuat langkahku yakin tanpa tanya.
Kau hadir laksana fajar yang lembut,
menghapus malam, mengajarkan kalbu bertaut.
Dalam pelukanmu aku merasa pulang,
di antara resah yang kau buat tenang.
Terima kasih, cinta, atas tiap detik,
engkau menjadikan hidupku lebih apik.
September ini terasa tak biasa,
penuh warna ceria, penuh rasa.
Engkau ibarat musim semi di dadaku,
menumbuhkan bunga, menyembuhkan lara yang membelenggu.
Pelukanmu erat, seakan dunia berhenti,
seolah waktu tunduk dan tak berani pergi.
Aku belajar arti hidup dari tatapanmu,
seakan semesta berbisik: “dia untukmu.”
Di sampingmu aku jadi berani bermimpi,
menatap masa depan tanpa rasa sepi.
September berubah jadi altar bahagia,
setiap langkahnya penuh doa dan cahaya.
Senja pun tampak manis bersama dirimu,
langit jingga tersenyum melihat kita berdua menyatu.
Aku ingin mengabadikan momen ini selamanya,
tak ada kata lain selain syukur yang membuncah di dada.
Cinta ini sederhana, tak perlu kata muluk,
cukup hadirmu yang setia, cukup pelukan yang kukuh.
Kau membuat September jadi paling ceria,
tak ada luka, hanya tawa penuh bahagia.
Aku ingin tetap di sini,
menggenggam erat tak ingin pergi.
Pelukanmu menjelma doa yang hangat,
menutup luka, menghapus penat.
Denganmu hujan terasa ramah,
jatuhnya lembut, tak lagi resah.
Setiap detik di sisimu jadi anugerah,
tak ingin kulepaskan, tak ingin berubah.
September kemarin jadi saksi,
bahwa aku mencintaimu sepenuh hati.
Aku berterima kasih pada semesta,
menghadirkan dirimu saat aku tak menyangka.
Kau ibarat bintang di malam yang redup,
memberi arah, membuatku cukup.
Pelukanmu adalah rumah,
tempat jiwaku merasa ramah.
Tak ada kata yang bisa mewakili,
betapa berharganya engkau di hati.
Aku ingin menulis ribuan sajak,
hanya untuk merangkum cintamu yang bijak.
Aku ingin hujan turun dengan lembut,
mengingatkan padamu yang selalu menaut.
Dalam genggam tanganmu,
aku temukan jalan hidupku.
Tiada bulan seindah September kali ini,
karena kau hadir menemani.
Aku ingin waktu berhenti,
agar kau tetap di sisi.
Senyummu meneduhkan siang yang lelah,
membuat hatiku selalu pasrah.
Aku percaya, cinta bukan sekadar kata,
tapi hadir dalam pelukan yang nyata.
Kau jadikan hidupku berwarna,
setiap hari bagai pesta.
Terima kasih untuk kehangatan itu,
untuk keyakinan bahwa aku milikmu.
September, engkau kuberi makna baru,
sebagai bulan cinta yang takkan layu.