Sore, Hujan dan Kacamata Hitam



Sore merambat dengan langkah pelan,
langit merona jingga, basah tersimpan.
Aku menyalakan motor tua yang setia,
mesin tangguhnya bergemuruh, Bobby namanya.

Helm biru muda menempel di kepala,
hoodie navy meresap aroma hujan yang menggema.
Kacamata hitam ku sematkan di wajah,
meski mendung, silau tetap merajah.

Jalan licin berkilau bagai kaca,
genangan menari memantulkan cahaya yang tak terbaca.
Roda berputar menembus sisa gerimis,
hatiku hangat meski sore terasa dingin manis.

Pertokoan sibuk dengan langkah manusia,
suara tawar-menawar melayang bersama cahaya senja.
Lampu neon toko menyala gemerlap,
memantul di kacamata hitam, jadi lukisan yang mantap.

Ada yang pulang, ada yang baru tiba,
kota kecil ini sibuk seakan tak pernah reda.
Aku tersenyum pada hiruk pikuk yang akrab,
karena di balik bising ada damai yang menyerap.

Bobby melaju, ban nya menciprati dari sisa hujan,
jalan basah menyimpan cerita dalam kenangan.
Aku teringat masa lalu yang samar,
wajah-wajah lama muncul sebentar lalu kembali pudar.

Kacamata hitam jadi jendela nostalgia,
membuat setiap pantulan cahaya terasa magis bagai elegia.
Aku bukan sekadar berkendara pulang,
aku sedang membaca puisi jalanan yang panjang.

Setiap etalase menatapku diam,
seolah memahami rahasia malam.
Aroma gorengan dari warung menyapa,
bercampur wangi hujan yang belum sirna.

Anak-anak berlarian di pinggir jalan,
tertawa basah meski hujan baru reda perlahan.
Pedagang kaki lima berkemas cepat,
waktu magrib sebentar lagi mengetuk hangat.

Aku melaju meninggalkan kota,
perlahan masuk ke jalan desa.
Pohon basah menunduk penuh embun,
sawah memantulkan langit yang redup turun.

Suara jangkrik mulai berdendang,
menutup hari dengan irama tenang.
Rumah-rumah berjejer sederhana,
dari celah jendela keluar cahaya lampu yang mesra.

Udara desa menepuk dadaku,
memberi tenang setelah sibuk hariku.
Aku merasa seakan kembali ke masa dulu,
saat masa kecil penuh rindu yang semu.

Bobby setia menuntunku pulang,
menembus sore yang kian menghilang.
Kacamata hitamku tetap kupakai,
meski malam datang, ia tetap memberi damai.

Cahaya lampu jalan pecah di lensa,
menciptakan dunia yang lain penuh rasa.
Setiap sorot lampu jadi bintang,
menari di jalur aspal yang panjang.

Aku merasa seperti tokoh utama cerita,
melaju dalam adegan yang penuh drama.
Tak ada musik selain suara hujan,
tak ada penonton selain langit dan jalan.

Setiap tikungan memberi sapaan,
setiap tanjakan memberi pesan.
Angin basah menerpa wajahku,
membawa kabar dari waktu yang lalu.

Nostalgia menetes bersama hujan,
menulis ulang cerita dalam ingatan.
Aku tersenyum di balik kacamata gelap,
karena masa lalu terasa dekat meski terlampau lelap.

Jalan desa makin sepi, makin syahdu,
hanya ada aku dan Bobby yang tahu.
Waktu melarut menuju magrib,
azan menggema, meramaikan masjid.

Aku pelankan laju motor biruku,
seakan menghormati langit yang redup syahdu.
Pulang bukan sekadar tiba di rumah,
pulang adalah perjalanan merehatkan resah.

Hujan reda, tapi hatiku masih basah,
penuh rasa syukur, nostalgia, dan pasrah.
Sore, hujan, dan kacamata hitam jadi satu,
menjadikan perjalanan ini puisi yang selalu aku rindu.

Posting Komentar

Ninggalin Gema Rima?
Tautan ini akan membawamu beranjak dari Gema Rima, menuju dunia yang tak kami jaga. Yakin mau kesana?
- Geri OwlBert

Memuat..