Tujuh Rupa

lumina.lalify
Tepat di malam itu,
bulan purnama bersinar terang dengan sorot cahayanya.
Ia memperlihatkan keindahan rupa manusia—
bukan laki-laki ataupun perempuan,
melainkan seorang manusia dalam wujud penghambaannya.

Ia duduk bersimpuh di bawah aliran air,
membawa segala sifat yang ia miliki.
Entah baik ataupun buruk,
namun ia merasa cukup untuk dirinya sendiri,
agar layak diperlakukan seperti manusia lain.

Di sebelahnya berdiri seorang laki-laki,
membawa nampan berisi bunga beragam warna—
tak cukup satu warna,
melainkan tujuh warna yang berpadu.

Bau itu menyeruak,
menusuk ke dalam hidung siapa pun yang lewat di dekatnya.
Katanya, tujuh warna itu melambangkan manusia.

Aku kurang mengerti
bagaimana seorang manusia bisa disamakan dengan bunga tujuh rupa.
Atau mungkin, karena manusia bisa berganti-ganti wajah:
entah dengan yang lain,
entah dengan dirinya sendiri,
entah dengan siapa pun yang ia kehendaki.

Terkadang mereka tampak tebal seperti pondasi rumah—
entahlah.
Biarlah mereka beranggapan dirinya bagaikan malaikat,
padahal sejatinya ia hanyalah manusia yang bermuka tebal dan munafik.

Aku tak berkata orang lain yang munafik;
mungkin aku,
atau diriku yang lainnya.

Sadar diri memang penting,
tetapi cukuplah diriku yang tahu bahwa setiap manusia akan berganti wajah dan memakai topeng pada setiap waktu tertentu.

Posting Komentar

Ninggalin Gema Rima?
Tautan ini akan membawamu beranjak dari Gema Rima, menuju dunia yang tak kami jaga. Yakin mau kesana?
- Geri OwlBert

Memuat..