Senja tergantung di langit yang pelan,
seperti takut jatuh dan kehilangan.
cahayanya memudar tapi tetap bertahan,
meski malam sudah lama menawarkan pelukan.
Di ufuk jauh, bayang tumbuh tanpa nama,
berjalan bersama waktu yang tak pernah sama.
angin membawa rahasia yang tak diucapkan siapa,
menyelip di sela-sela hati yang ingin istirahat sejenak saja.
Ada perjalanan yang terus mengalir tanpa henti,
meski langkahnya goyah, harus berdiri.
di balik dada yang berisik namun sunyi,
menyimpan kisah yang tak sanggup diurai lagi.
Langit berubah tapi makna tak ikut pergi,
seperti harapan yang terus menempel di tepi.
meski samar, tetap ingin hidup kembali,
meski lelah, tetap belajar untuk berdiri.
Ruang di kepala penuh gelombang tak beraturan,
seperti laut yang menahan badai dalam diam.
tak ada jawab, hanya detak yang pelan,
mengukur ulang arah yang tak pernah benar-benar aman.
Senja memandangku tanpa suara,
seolah tahu semua luka yang kubawa.
ia menunggu saat aku berani bercerita,
tentang hari yang berat tapi tetap kucoba jaga.
Ada jarak yang tumbuh antara ingin dan perlu,
antara yang kupikul dan yang menuntut waktu.
meski tak terlihat, ia menusuk paling dulu,
mengajari aku arti sunyi yang tak pernah beku.
Kadang hidup terasa seperti lorong panjang,
tanpa pintu pulang, tanpa tempat berpegang.
aku berjalan meski pandang kadang hilang,
karena diam pun rasanya tetap menantang.
Senja menua di batas hari,
tapi aku belum mampu kembali.
ada sesuatu yang menahan di dalam diri,
entah itu takut, letih, atau sekadar mencari arti.
Dalam cahaya yang mulai patah,
aku belajar menerima retak.
belajar mencintai langkah yang goyah,
meski tujuan terasa semakin jauh dari bijak.
Ada waktu-waktu di mana aku ingin berhenti,
tapi langit berkata: “bertahanlah sedikit lagi”.
dan dalam bisik itu, aku menyimpan diri,
meski rasa pedihnya tak pernah benar-benar pergi.
Senja yang tak jadi pulang tetap menunggu,
seperti aku yang mencoba menata rindu.
pada hidup yang kadang terasa semu,
pada mimpi yang hampir kupadamkan dulu.
Di bawah langit yang kehilangan warna,
aku berdamai pelan dengan segalanya.
meski tak pasti, aku tetap melangkah ke mana saja,
asal hati masih punya sisa cahaya untuk dibawa.
Senja perlahan memudar tanpa ucap,
seperti jawab yang tak pernah sempat terucap singkat.
tapi dalam redupnya, ada makna yang hangat,
bahwa tak semua yang hilang berarti tersesat.
Hari menutup perlahan tapi tak memaksa,
aku menampung sisa-sisa cahaya tanpa kata.
meski berat, aku tahu esok masih punya udara,
untuk napas yang tersengal tapi tetap ada.
Dan ketika malam akhirnya datang,
aku mengerti kenapa senja tadi tak jadi pulang.
karena beberapa hal memang harus digantungkan,
agar kita punya alasan untuk terus berjalan.