Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja



Jiwaku sekuntum bunga kemboja di senyap malam,
Mekar perlahan meski angin tak ramah menyapa dalam.
Harumnya menembus batas yang tidak pernah kupikir,
Mengajari bahwa hening pun bisa memulihkan batin yang hampir kabur.

Aku tumbuh di tanah yang jarang dipilih manusia,
Tempat di mana langit gelap lebih sering bercerita.
Namun aku tetap berdiri meski dunia berputar liar,
Sebab akar kecilku tahu cara bertahan saat segalanya hambar.

Ada luka lama yang kubiarkan tidur di bawah kelopak,
Kadang berdenyut, kadang diam seperti bayang tipis yang menetap koyak.
Namun aku tetap mekar ketika pagi akhirnya hadir,
Karena setiap runtuh selalu memberi alasan baru untuk kembali tak gentar.

Jiwaku mengenal sunyi dengan akrab,
Ia tahu kapan harus diam dan kapan harus lembut menyerap. 
Dari diam itu tumbuh keyakinan yang mengakar,
Bahwa tenang bukan lemah, hanya sedang belajar menakar.

Aku menampung cahaya lembut yang turun dari awan retak,
Membiarkan hangatnya masuk tanpa perlu banyak jejak.
Meski cahaya itu sering samar serta getir,
Aku tetap menyimpannya sebagai alasan untuk tidak gentar.

Kadang angin membawa kabar yang membuatku gentar,
Kadang malam terlalu dingin untuk kupeluk tanpa gemetar.
Namun jiwaku tak ingin lagi kabur,
Ia memilih tinggal dan percaya hari esok lebih segar

Aku belajar tersenyum pada takdir yang berputar,
Belajar memaafkan hal-hal yang dulu membuatku gentar.
Sebab jiwaku tumbuh bukan untuk kabur,
Tetapi untuk merawat harapan yang diam-diam muncul segar

Hujan turun pelan, membasahi daun yang bergetar,
Membuat aromaku naik lembut tanpa perlu berdebar.
Dan aku mengerti bahwa hidup memang tak pernah lurus,
Namun setiap lengkungannya menuntunku jadi manusia yang terus tumbuh lurus.

Kini aku berjalan dengan hati yang lebih sabar,
Tidak tergesa, tidak pula menuntut jawaban besar.
Karena jiwaku telah belajar dari semua keadaan,
Bahwa pulang selalu ada, asal berani melangkah meski perlahan.

Aku merawat sunyi seperti sahabat karibku.
Menjaganya tetap hangat meski hari-hari temaram haru.
Dari sunyi itu kutemukan diriku kembali indah,
Bukan sempurna, tapi cukup kuat untuk bertahan cerah.

Pada akhirnya aku menerima diriku dengan bahagia,
Mekar seadanya, sederhana, namun tetap melegakan sekitarnya.
Sebab setiap kelopak kemboja menyimpan cerita yang apa adanya,
Tentang jiwa yang pernah hampir redup, tapi memilih tetap hadir bersama lukanya.

Posting Komentar

Ninggalin Gema Rima?
Tautan ini akan membawamu beranjak dari Gema Rima, menuju dunia yang tak kami jaga. Yakin mau kesana?
- Geri OwlBert

Memuat..