Di ujung senja, sang petualang berdiri,
di hadapan negeri sunyi tanpa penghuni.
Angin pun diam, seakan tak berani,
membawa bisik sunyi yang terjalani.
Di tengah tanah yang kering dan tandus,
portal raksasa berdiri tegap dan halus.
Cermin hitam yang menggurat takdir,
seperti pintu menuju lembah yang getir.
Tangan terulur, jari menyentuh kaca,
dalam sekejap, ia pun terhempas tanpa sisa.
Terlempar ia dalam ruang tak berujung,
dalam kegelapan yang sunyi, ia terkurung.
Suara berat bergema di sudut malam,
"Yang datang ke sini, tak boleh diam.
Keberanianmu akan diuji tanpa batas,
atau kau terkurung dalam gelap yang beku dan keras."
Dari gelap muncullah bayangan kelam,
diri sendiri, namun tampak muram.
Tatapan tajam penuh kemarahan,
menguak luka, ketakutan, dan keraguan.
Sang petualang terdiam, jiwanya bergetar,
namun hatinya berbisik, "Jangan gentar."
Bayangan itu menghantam seperti badai,
memperlihatkan semua keraguan yang ia bawa sampai terurai.
“Aku datang bukan tanpa tujuan,”
ucapnya tegas tanpa ragu di jalan.
“Aku tak akan tunduk pada ketakutan ini,
melangkah maju adalah pilihan pasti.”
Suaranya menggaung, menembus gelap pekat,
melawan bayangan yang terus mendekat.
Bayangan itu mengerang, meronta hilang,
tubuhnya pecah, berubah menjadi bayang.
Saat itu, kekuatan mengalir lembut,
keberanian muncul, jiwa pun terpaut.
Dadanya berdenyut hangat dan teguh,
merasa kokoh dalam setiap langkah penuh.
Kutukan pertama telah ia hadapi,
dengan keberanian yang kini ia miliki.
Di Tanah Sunyi ia menggapai pelita,
siap menumpas kutukan berikutnya.