Dari danau ia lanjut melangkah,
cahaya bulan membawa arah.
Menuju gua dengan suasana kelam,
di mana rahasia menunggu dalam diam.
Dinding gua berlumut pekat,
menyembunyikan misteri yang erat.
Langkahnya mantap, meski dihantui,
tangan menggenggam asa yang berani.
Di dalam gua, ia temukan vas,
berkilau lembut di sudut gelap lepas.
Namun dari vas itu, aura kelam terpancar,
menggambarkan jiwa yang terkurung dan tercecar.
Kutukan muncul menjaga vas itu,
melawan petualang dengan amarah yang memburu.
Ia mengeluarkan pedang bintang kejora,
cahaya magisnya menyala dengan asa.
“Harapan ini milik mereka,” katanya tegas,
“Kutukanmu takkan membuatku lemas!”
Dengan tekad kuat dan serangan magis,
kutukan luruh dalam hembusan tragis.
Vas berhasil ia bawa keluar,
jiwa-jiwa terkurung mulai bergetar.
Dari dalam vas terdengar suara,
bisikan lembut penuh doa dan duka.
“Bebaskan kami dari kutukan keji,
kembalikan cahaya di negeri ini.”
Suara itu memberi harapan baru,
membangkitkan semangat yang sempat layu.
Dari vas, sinar perlahan memancar,
menghangatkan hati yang mulai gemetar.
Ia rasakan kekuatan dalam dirinya,
kepercayaan baru yang membangkitkan jiwa.
Dengan harapan yang kini menyatu,
ia berjanji menumpas kutukan yang kelabu.
Vas harapan ia simpan dalam tas,
menjadi pengingat tugas yang tak boleh lepas.
Melangkah keluar dari gua yang gelap,
ia menatap langit dengan hati yang mantap.
Kepercayaan kini menjadi pelita,
menerangi jalannya di tengah bahaya.