Di puncak bukit penyesalan ia berdiri,
menatap langit gelap yang tak berseri.
Angin berbisik membawa dendam,
suara kutukan menggema suram.
Sumber kutukan muncul di depan mata,
sosok gelap penuh amarah membara.
Pedang Bintang Kejora ia genggam erat,
membawa harapan melawan si laknat.
“Keberanian ini telah kupupuk,
untuk memusnahkan segala penindas buruk.”
Serangan pertama ia ayunkan,
melawan kutukan yang terus menyerang.
Pertarungan sengit terjadi seketika,
cahaya dan gelap saling meluka.
Kekuatan spiritual bangkit berkilauan,
aura pedang memancar ke segenap bebatuan.
Namun kutukan semakin berang,
menyerang jiwanya dengan dendam garang.
“Tekadku takkan pernah runtuh,
karena jiwa penduduk ada dalam tubuh.”
Optimisme membakar hatinya kini,
melawan bayang yang merantai diri.
Kepercayaan dari jiwa yang suci,
membimbingnya menghadapi angkara murka ini.
Harapan berbicara di dalam hatinya,
“Jangan menyerah, ini ujian jiwa.”
Pedang kejora mulai menyala terang,
menebas kutukan hingga gelap pun bimbang.
Sang Kutukan mulai terpojok tak berdaya,
kekuatan cahaya menghancurkan maya.
“Ini saatnya!” ia serukan lantang,
mengangkat pedang dengan sorotan terang.
Dengan segenap jiwa dan kekuatan,
ia segel kutukan dalam pedang kebenaran.
Warna pedang kini menjadi hitam kelam,
kutukan pun hilang terbenam.
Puncak itu memancarkan cahaya kemurnian,
kemenangan lahir dari perjuangan.
Negeri sunyi kembali bersinar,
melukis harapan di setiap lembar.
Penduduk yang dulu hanya bayangan,
kini kembali penuh kehidupan.
Negeri itu kini penuh sukacita,
kini berubah nama menjadi Negeri Seribu Cahaya.
Sang petualang tersenyum penuh syukur,
menatap negeri dengan hati yang makmur.
“Perjalanan ini adalah pelajaran,
tentang kekuatan hati melawan kezaliman.”
Langkahnya pergi meninggalkan bukit,
dengan jiwa yang tenang dan semangat terbit.
Legenda ini akan dikenang selalu,
kisah tentang harapan yang tak pernah berlalu.
Tamat-