Dalam sunyi kuterima pedang yang kau hunuskan,
Terhujam dalam, tak ada tangis untuk kuratapkan.
Jiwaku membeku, mati rasa oleh pengkhianatan,
Namun tubuhku tetap tegak, berpura baik dalam kesakitan.
Kau di sana, di dunia yang tak tersentuh lagi,
Namun rindu ini, tak kenal henti dan selalu berlari.
Kupandang kupu-kupu yang lembut mengayun sayapnya,
Sebait ingatanmu terlukis dalam setiap warnanya.
Pedang pengkhianatanmu menghancurkan harap dan mimpi,
Namun cinta ini tetap di sini, tak pernah ingin pergi.
Meskipun luka mengalir sepi tanpa ujung,
Aku peluk kenangan yang kau tinggalkan menggantung.
Aku tahu kau hidup dalam semesta yang berbeda,
Namun bayangmu masih ada di setiap langkah yang kuterka.
Kesakitan kuterima dengan lapang dada,
Mengajarkanku kekuatan dalam sunyi tanpa suara.
Dalam setiap langkah, sisa dirimu masih kurasa,
Bagai kupu-kupu, menari lembut di tengah semesta.
Di antara pedih, kutemukan keindahan yang bisu,
Tak menuntut balas, hanya membiarkan rindu.
Aku hidup di dua dunia yang tak searah,
Namun hatiku tak pernah lelah menyerah.
Kau ada di sana, jauh dari jangkauan nyata,
Namun di sini, cintaku tetap bertahan sempurna.
Pedang yang menusuk tak kurasakan lagi tajamnya,
Karena rindu ini, tak lagi bisa berperang dengannya.
Aku baik-baik saja, walau hatiku tertatih,
Dan kupu-kupu itu tetap menyusup di setiap perih.