Hari ini aku lupa menulis keluhanku,
tak ada dendam yang mengusik pagiku.
Buku catatan masih tergeletak rapih,
tapi tintanya enggan menuliskan sedih.
Biasanya aku membuka halaman awal,
menuliskan resah seperti ritual.
Namun pagi ini, pena terasa ringan,
seolah hatiku tak lagi ingin berperang.
Tidak ada luka yang minta diabadikan,
tidak ada sesak yang ingin diungkapkan.
Hanya udara, kopi, dan matahari,
yang masuk diam-diam ke dalam diri.
Langit tak istimewa, hanya biru biasa,
tapi entah kenapa, itu sudah terasa lega.
Tak perlu ledakan warna atau pelangi,
cukup langit yang tidak ingin pergi.
Aku menyapu halaman yang penuh debu,
dengan tangan yang tidak lelah atau kelu.
Mungkin karena luka-luka kemarin,
sudah tak ingin jadi tamu yang datang main.
Aku bahkan lupa memutar lagu kesedihan,
tak ada soundtrack patah yang jadi langganan.
Yang ada hanya detak yang mengalir pelan,
dan rindu yang tak lagi membentuk beban.
Bantalku tidak basah pagi ini,
tak ada air mata yang terbangun dari mimpi.
Kamar terasa tenang, walau tak sempurna,
tapi cukup untuk jadi tempat bernyawa.
Dulu aku selalu menuliskan “mengapa?”,
hari ini tak ada pertanyaan dari kepala.
Mungkin karena jawabannya bukan kalimat,
tapi perasaan ringan yang menetap.
Aku melihat diriku di balik kaca,
dan untuk pertama kalinya tak mencari cela.
Wajah yang sama, mata yang lelah,
tapi senyumnya bukan lagi topeng marah.
Hari ini aku lupa menulis keluhanku,
karena tak ada yang ingin kucela dari hidupku.
Bukan karena semua menjadi sempurna,
tapi karena aku akhirnya... menerima.