Di malam sunyi yang retak cahaya,
kupeluk gelap tanpa suara.
Langit membeku, jalan pun diam,
aku berjalan tanpa arah, tanpa salam.
Bayangan memanjang di sisi dinding,
mengejarku lirih seperti angin dingin.
Ia menari, bukan seperti aku,
geraknya lambat, penuh ragu.
Aku menolak pulang ke tempat tidur,
karena cermin di kamarku begitu angkuh dan kabur.
Wajahku tak sama seperti siang,
matanya merah, senyumnya bimbang.
Bayangan itu menatap lebih dalam,
menggali luka yang lama kupendam.
Ia tahu semua yang kusembunyikan,
dari tangis malam hingga keengganan.
Aku berkata, "Jangan ikuti langkahku,"
ia tertawa dan mengulang suaraku.
“Bukankah kau lari dari dirimu sendiri?”
bisiknya tajam seperti mimpi berduri.
Lampu-lampu jalan padam perlahan,
seiring denyut jantung dan ketakutan.
Bayangan semakin nyata di belakang,
bernapas dalam ritme langkah pulang.
Pintu rumah berdiri seperti mulut,
menantiku masuk dalam sunyi yang kututup.
Tapi aku membelok, menyusuri malam,
menghindari cermin, menghindari kenangan kelam.
Bayangan itu kini berjalan sejajar,
tanpa suara tapi penuh sadar.
Ia bukan aku, tapi tahu caraku berjalan,
tahu setiap bisik yang kusimpan di jalan.
Di tengah kota yang tak mau tidur,
aku mendengar suara dari tembok yang hancur.
“Pulanglah,” katanya, “hadapi gelapmu.”
Tapi hatiku berkata, “Aku belum sanggup memeluk bayanganku.”
Aku terus berlari ke arah tak tentu,
menjauh dari malam, dari rumah yang semu.
Tapi bayangan tetap setia di belakang,
seperti bayang-bayang janji yang patah dan hilang.