Di Nirvana ia tiba dengan hati terbuka,
Segala luka sirna, tiada lagi duka.
Dunia fana tertinggal jauh di belakang,
Kini hidupnya tenang, tiada bayang-bayang.
Ia melihat taman yang begitu indah,
Cinta abadi di sana tampak hidup megah.
Burung bernyanyi dalam irama lembut,
Melodi kebahagiaan yang begitu hanyut.
Di tengah taman itu ia melihat dia,
Sosok yang memancarkan kasih dan cinta.
Tatapan matanya sehangat mentari pagi,
Menghapus dinginnya hati yang selama ini tak berpenghuni.
"Apakah engkau yang kutunggu selamanya?"
Tanyanya dengan haru di dalam dada.
"Ya, aku adalah cinta sejati yang kau cari,
Kehadiranku adalah takdir Ilahi."
Mereka bersatu dalam dekapan abadi,
Tak ada lagi perpisahan yang menyakiti.
Hidup mereka penuh dengan harmoni,
Cinta tumbuh dalam kedamaian yang hakiki.
Ia tersenyum, hatinya penuh bahagia,
Semua penantian terbayar sempurna.
"Tak sia-sia aku menjalani semua,
Kini Nirvana adalah rumahku selamanya."
Tiada lagi ragu, tiada lagi gundah,
Ia bersyukur pada Tuhan yang penuh berkah.
Hidup di Nirvana adalah anugerah,
Cinta sejati akhirnya ia rengkuh indah.
Waktu berlalu, namun cinta tetap utuh,
Seperti bintang yang tak pernah runtuh.
Ia sadar kini arti dari kehidupan,
Segala cobaan hanyalah ujian.
Tak boleh menyerah pada takdir yang berat,
Karena di balik semua ada hikmat.
Jika jodoh tak datang di dunia fana,
Di Nirvana ia menunggu dengan cinta.
Tuhan menciptakan semua berpasangan,
Ia maha adil, penuh kasih sayang.
Cinta sejati tak pernah padam,
Meski di dunia tampak suram.
Hidup adalah perjalanan yang penuh misteri,
Namun percayalah, Tuhan memberi arti.
Di Nirvana segalanya menjadi nyata,
Cinta abadi yang tiada tara.
~ tamat