Dulu malam adalah luka yang membeku,
sepi menggantung, menusuk waktu.
Tak ada pelukan, hanya gelisah,
dan bisikan hati yang selalu lelah.
Namun kini aku menyambut gelap,
bukan dengan takut, tapi dengan harap.
Karena malam tak lagi terasa asing,
ia seperti sahabat yang akhirnya ingin mendampingi.
Bintang tak hanya menjadi pajangan,
mereka bersinar karena punya tujuan.
Langit pun seolah berbicara pelan,
menghapus duka yang pernah membeban.
Aku duduk diam di balik jendela,
melihat bulan yang tersenyum pula.
Mungkin ia tahu hatiku telah tenang,
tak lagi larut dalam kenangan yang mengambang.
Malam ini tak membawa beban,
tapi cerita tentang hati yang perlahan sembuh pelan-pelan.
Aku mencintai sunyi yang tak menghakimi,
dan malam pun belajar menyayangi kembali.
Lampu jalan menyala seperti harapan,
tak menyilaukan, hanya teman perjalanan.
Dulu aku takut gelap menelan diri,
sekarang gelap justru melindungiku dari sunyi yang menyakiti.
Rasanya aneh, tapi juga damai,
malam tak lagi jadi tempat aku mengeluh atau mengelak dari badai.
Mungkin karena aku telah menerima,
bahwa bahagia kadang datang dalam cara yang tak biasa.
Ada denting lagu dari kamar sebelah,
tapi hatiku lebih nyaring bersenandung indah.
Tak perlu cinta yang megah menjulang,
cukup damai kecil yang membuat hati tenang.
Tak lagi menangis di bawah cahaya bulan,
aku kini tersenyum—meski kadang tanpa alasan.
Ada yang tumbuh di dadaku malam ini,
semacam syukur yang menyelimutiku dari sisi ke sisi.
Dan malam… oh malam,
tak lagi dingin, tak lagi kelam.
Kau kini tahu rasanya dicintai,
oleh hati yang pernah patah tapi kini ingin memberi.
Aku dan kamu, wahai langit malam,
berbagi rahasia dalam sunyi yang dalam.
Mungkin cinta tak selalu dalam bentuk manusia,
tapi dalam kedamaian yang hadir tanpa suara.