Langit tak lagi menggigilkan pagi,
seperti ada hangat yang diam-diam menepi.
Burung bernyanyi tanpa sebab tertentu,
daun-daun pun bersorak di sela waktu.
Langkahku ringan tanpa rencana,
entah kenapa segalanya terasa ada maknanya.
Gelombang hati yang dulu mencekat,
kini mengalun lembut, pelan dan hangat.
Aku tak tahu apa yang berubah,
tapi dunia ini mendadak tak lagi resah.
Tak ada angin yang ingin menjatuhkan,
bahkan hujan pun turun dengan pelukan.
Lampu jalan berkedip seolah mengerti,
bahwa aku sedang berdamai dengan diri.
Trotoar yang dulu seperti jalan perpisahan,
kini terasa seperti lintasan harapan.
Kupandangi etalase toko penuh warna,
dan tiba-tiba aku ingin hidup lebih lama.
Orang-orang tersenyum tanpa sebab,
seperti semesta menghapus semua keraguan yang gelap.
Kupijak tanah dengan rasa baru,
tak lagi ingin pergi dari waktu.
Seseorang menoleh, memberi sapa,
aku membalas, walau biasanya aku lupa.
Kopi di tangan terasa lebih manis,
dan langkah menuju rumah seperti janji yang manis.
Tak ada pesan yang membuatku sesak,
malah ada tawa yang menggantikan retak.
Aku berjalan tanpa beban di bahu,
hanya rindu kecil yang ikut bertamu.
Dan rindu itu bukan luka atau beban,
melainkan sesuatu yang mengingatkan aku masih insan.
Bayangmu pernah jadi musim badai,
kini jadi angin yang meniup pelan dari balik jendela damai.
Bukan untuk kembali atau melukai,
tapi untuk bilang: “aku tak lagi ingin pergi.”
Mataku menangkap pantulan langit senja,
warna jingga yang menua namun tak bosan bersuara.
Dan di dadaku, ada degup yang tenang,
seperti gelombang yang enggan menghilang.
Apa ini cinta? Atau hanya syukur?
Atau mungkin keduanya menyatu dalam alur?
Yang jelas, hatiku tak lagi teriakkan lara,
karena semesta kini tersenyum bersama.
Aku menengadah dan tersenyum lepas,
membiarkan hari menuliskan kisah tanpa batas.
Tiba-tiba aku tak merasa sendiri,
dan dunia pun menyambutku, seolah berkata:
"Akhirnya kau sampai di sini."