Sepucuk Surat dari Negeri Sunyi


Kepada engkau yang pernah datang,
melintasi sunyi dengan hati lapang.
Telah lama tak terdengar kabar,
hanya angin yang tetap bergetar.

Langkahmu pernah mengusik tanah,
meninggalkan jejak yang tak pernah punah.
Kami masih ingat suaramu lirih,
menghidupkan semangat yang hampir letih.

Di Hutan Angkara tumbuhlah teduh,
karena kau tempur tanpa mengeluh.
Pepohonan bersyukur pada cahaya,
yang kau pancarkan meski tak nyata.

Di Danau Ketulusan masih berkilau,
bekas air mata dan senyummu yang sempilau.
Kutukan di Lembah telah kau rengkuh,
dengan tekad tanpa keluh kesah yang penuh.

Di Gua Kebenaran kau temukan diri,
meski harus menelanjangi sunyi.
Kami saksikan dari balik kelam,
kau bawa harapan pulang ke dalam.

Bukit Penyesalan pernah kau daki,
meski sempat ingin pergi dan lari.
Namun bisikan jiwa menahan langkah,
menyadarkan hati yang hampir rebah.

Kini negeri ini lebih tenang,
sejak kau lewatkan malam-malam panjang.
Kutukan belum sirna seluruhnya,
namun cahaya tetap ada di rimba.

Kami tak menuntut kau kembali,
tapi kami ingin kau tahu ini:
Sunyi yang kau tinggalkan bukan kesepian,
melainkan damai dalam keabadian.

Jika kau masih berjalan dalam gelap,
ingatlah kami yang tetap menetap.
Di Negeri Sunyi ini, kau pernah jadi cahaya,
dan kami, akan terus menjaganya.

Posting Komentar

Ninggalin Gema Rima?
Tautan ini akan membawamu beranjak dari Gema Rima, menuju dunia yang tak kami jaga. Yakin mau kesana?
- Geri OwlBert

Memuat..