Indonesia, wajahnya penuh luka,
suara rakyat tercekik, keadilan hanya dusta belaka.
Jalanan dipenuhi api, teriakan membakar udara,
sementara pejabat tertawa, meneguk kopi di kursi istana.
Hukum jadi mainan, dipelintir seolah karet,
yang kuat tertawa, yang lemah digilas besi berkarat.
Korupsi menari di meja, menenggak uang rakyat,
sementara anak bangsa lapar, mengais sisa di pasar yang sekarat.
DPR menaikkan gaji, tiga juta per hari,
sedang rakyat miskin bingung, besok makan apa lagi.
Di balik gedung megah, rakyat dianggap sebuah figura,
seolah negeri ini milik mereka, bukan milik kita bersama.
Polisi seharusnya melindungi, namun jadi cambuk luka,
gas air mata menyapa, seakan rakyat musuh negara.
Pengemudi ojek daring bernama Affan Kurniawan, tubuhnya terkapar dingin,
namanya jadi simbol, betapa nyawa rakyat tak dianggap penting.
Indonesia melawan Indonesia, seakan perang saudara,
seragam melawan baju lusuh, aparat melawan warga.
Keadilan terbungkus rapi di meja para hakim,
namun keputusannya selalu condong, memihak pemilik rezim.
Rakyat berteriak “adil!”, namun suara dipukul palu,
disamarkan di layar televisi, ditutup dengan lagu.
Demo jadi rutinitas, jalanan penuh bendera,
sementara mereka di gedung, berdebat soal harta semata.
Petani menunduk lesu, tanahnya dirampas paksa,
pabrik berdiri megah, udara pun ikut binasa.
Hutan dibakar rakus, demi tambang dan sawit,
alam menangis pedih, tapi pejabat menutup telinganya yang sakit.
Indonesia kini seperti drama, panggung sandiwara murahan,
aktor utama pejabat, rakyat hanya penonton kebingungan.
Janji-janji pemilu, manisnya bagai madu,
namun setelah berkuasa, semuanya palsu.
Negeri ini ibarat kapal, nakhodanya buta arah,
badai kian menggila, layar terkoyak sudah parah.
Rakyat terombang-ambing, mencari pantai harapan,
namun pantai hanya fatamorgana, tak pernah ditemukan.
Aparat berdiri tegak, wajahnya tanpa nurani,
melindas, memukul, menembak, seakan rakyat bukan saudara sendiri.
Mereka lupa seragam itu dibiayai keringat rakyat jelata,
tapi kekuasaan membutakan, membuat mereka lupa siapa yang nyata.
Indonesia melawan Indonesia, senjata menghadap dada sendiri,
yang satu menuntut hak, yang lain menembak dengan hati mati.
Kita bertanya lirih, “Apakah ini negeri merdeka?”
Ataukah hanya penjara besar, dengan cat merah putih semata?
Rakyat miskin mencuri, demi sekedar sesuap nasi,
sementara pejabat mencuri, demi mobil mewah dan istri.
Namun yang kecil dipenjara, diumumkan di layar kaca,
yang besar dipuja-puja, seakan pahlawan bangsa.
Laut luas digadai, tambang dijual murah,
modal asing tertawa, rakyat menangis pasrah.
Negeri ini berdarah, bukan oleh penjajah luar,
melainkan oleh tangan sendiri, yang terus menusuk dengan liar.
Keadilan hanyalah kata, hukum hanyalah drama,
aparat hanyalah panggung, rakyat hanyalah stigma.
Ironi negeri ini terasa pahit di lidah,
tapi mereka tetap berkata: “semua baik-baik saja, jangan marah.”
Indonesia melawan Indonesia, luka makin dalam,
namun media sibuk menutup, mewarnai dengan salam.
Rakyat dipaksa diam, dianggap tak berhak bicara,
padahal suara rakyat adalah nafas sejati bangsa.
Hari demi hari, kepercayaan itu sirna,
rakyat makin muak, bangsa makin hina.
Namun di tengah semua kegelapan, masih ada cahaya,
yaitu rakyat yang terus bersuara, menolak jadi boneka penguasa.
Panjang umur perjuangan!
Alfatihah untuk saudara kita š¤²
Alm. Affan Kurniawan
2004 - 2025