Sejak kecil Dinur menanggung luka yang dalam,
Hinaan dan cela menggerogoti hati yang diam.
Di sekolah dan rumah, tiada yang mengerti,
Setiap hari menjadi ujian yang menyiksa diri.
Temannya mengejek, kata-kata menusuk jiwa,
Bermain menjadi ketakutan, tawa terasa sia-sia.
Tangan meninju, tatapan menindas hati,
Kegelisahan mengikat, tak ada yang mampu membebasi.
Di kamar sendiri, Dinur menatap dinding hampa,
Sunyi menemani, menjadi teman yang tak pernah ia kira.
Ia menulis rasa sakit pada buku harian,
Namun kata-kata hanyalah bayangan tanpa kepastian.
Setiap malam air mata jatuh tanpa suara,
Hati retak, namun tak seorang pun peduli pada lukanya.
Mimpi indah hancur, hanya sisa serpihan,
Hidupnya tertutup oleh trauma yang dalam dan menyakitkan.
Ibunya mencoba menenangkan, penuh kasih,
Namun ucapan mereka hilang di antara bisu yang basah.
Dinur menolak, hatinya terkunci rapat,
Tiada yang mampu menembus dinding gelap yang pekat.
Setiap ejekan menjadi pedang di dada,
Kata-kata menyayat, meninggalkan rasa luka yang ada.
Ia belajar diam, menelan air mata sendiri,
Mengurung hati, menyingkir dari dunia yang penuh iri.
Langkahnya berat, dunia terasa penuh ancaman,
Setiap senyum orang lain bagai duri di tangan.
Ia ingin lari, namun kaki terkunci ketakutan,
Hanya gelap yang menemaninya dalam kesunyian.
Setiap malam, bantal menjadi teman setia,
Menampung tangis, menahan semua derita.
Ia menulis harapan, tapi kata hanyalah debu,
Yang terbang di udara, hilang tanpa jejak rindu.
Di jendela, ia menatap langit yang kelabu,
Berharap cahaya menembus gelap yang membeku.
Namun awan pekat menutupi setiap harapan,
Menyisakan kedinginan di hati yang rapuh dan kesepian.
Ia ingin tertawa, ingin bahagia,
Namun dunia terlalu keras, penuh cela dan nestapa.
Setiap detik menjadi pengingat luka lama,
Membentuk dirinya menjadi jiwa yang hampir hampa.
Di cermin, ia melihat bocah yang rapuh,
Namun di balik itu, ada nyala kecil yang tangguh.
Meski terluka, ia ingin mencoba bertahan,
Meski langkah berat, ia tetap ingin melawan.
Setiap hari adalah peperangan dalam diam,
Setiap kata ejekan menghantam seperti racun yang dalam.
Ia menelan sakit, menahan amarah yang membara,
Hidupnya menjadi pelajaran pahit tentang duka dan sengsara.
Ia berharap suatu hari ada yang mengerti,
Melihatnya bukan korban, tapi jiwa yang berani.
Luka ini mungkin tak akan pernah hilang,
Namun ia ingin mencoba berjalan meski perlahan dan menantang.
Air mata yang jatuh menjadi saksi hidup juang,
Betapa kecilnya ia di dunia yang keras dan timpang.
Namun di balik trauma, terselip keberanian,
Untuk tetap bertahan meski hati terus terbelah dan berantakan.
Ia menulis di buku, mencurahkan rasa,
Meski kata tak mampu menghapus luka yang membara.
Setiap malam menjadi saksi kesendirian,
Namun ada secercah harapan yang terselip di kesunyian.
Mimpi indah mungkin jauh dari genggaman,
Namun Dinur tetap ingin mencoba, menapak kehidupan.
Setiap luka masa kecil membentuk dirinya,
Menjadi jiwa yang rapuh, tapi tetap ingin bertahan di dunia nyata.