Bunga Terakhir Babak 2 - Sunyi Dalam Rumah



Dinur duduk di pojok kamar yang sempit dan suram,
Pikiran berkelana, menyingkap rasa takut yang dalam.
Ibunya mengintip dari balik pintu yang rapat,
Namun langkah mereka tak mampu menembus hati yang terperangkap.

Setiap pagi terdengar suara lonceng sekolah jauh,
Namun Dinur tetap diam, menolak langkah yang tergesa runtuh.
Piring dan gelas berserakan di meja yang sunyi,
Rasa lapar terlupakan dalam penjara pikirannya sendiri.

Langit-langit kamar dipenuhi bayangan kelabu,
Lampu redup memantulkan wajah lelah yang rapuh.
Setiap derap kaki di lantai menimbulkan luka,
Hanya sunyi yang menemaninya, teman setia dalam nestapa.

Ibunya mencoba mendekat dengan kata lembut bersahaja,
Namun Dinur menunduk, menolak setiap ajakan bicara.
Bahkan suara televisi menjadi beban di telinga,
Menyisakan gema hampa yang menekan dada.

Ia mencoba membaca buku yang menumpuk di meja,
Namun kata-kata hanya mengambang, tak menembus jiwa.
Setiap halaman menjadi bayangan yang menakutkan,
Menyadarkannya bahwa hidup kini penuh dinding penghakiman.

Ibunya menatapnya penuh cemas dan harap,
Namun Dinur tetap diam, menolak sentuhan dan ucap.
Suara mereka seperti angin yang hilang ditelan dinding,
Hanya kesunyian yang berbicara, menahan luka yang mengendap di batin.

Di sela kesepian, rasa penasaran muncul perlahan,
Apa ada dunia lain di luar rumah yang membatasi pikiran?.
Ia membayangkan teman, tawa, dan bunga-bunga di taman,
Namun bayangan itu segera sirna, menimbulkan cemas yang dalam.

Setiap detik menjadi pelajaran tentang kesabaran,
Setiap hembusan napas menjadi teman yang diam.
Ia belajar menahan amarah dan frustasi yang menumpuk,
Menjadi bayangan di rumah sendiri, tak terlihat oleh dunia yang remuk.

Ibunya berbicara di ruang tamu, suara samar terdengar,
Dinur mendengar tapi menolak hadir.
Segala usaha untuk memanggil hati yang tertutup gagal,
Hanya sunyi yang mendampingi setiap langkahnya yang rapuh terjungkal.

Malam menjadi kanvas bagi bayangan masa lalu,
Hatinya terperangkap, mencari arah dalam kelabu.
Ia menulis di buku, mengurai rasa yang membebani,
Namun kata tak mampu menghapus bekas luka yang meracuni.

Rutinitas pagi kembali mengulang tanpa makna,
Setiap langkah terasa menahan jiwa yang lelah.
Ia menatap luar jendela dengan mata kosong,
Menyadari bahwa dunia luar penuh rintangan dan ketakutan tak ada penolong.

Dalam diamnya, muncul bayangan samar seorang teman utuh.
Seolah ada yang ingin menembus dinding yang rapuh.
Dinur menahan diri, takut pada interaksi baru,
Namun hatinya mulai tergelitik oleh rasa penasaran yang tak pasti itu.

Ibunya menyiapkan makanan, harap terbuka hati,
Dinur menatap tapi tetap menolak, menahan diri.
Sunyi menjadi sahabat yang setia, tak pernah menghakimi,
Meski berat, ia belajar bertahan dalam dunia yang hampa ini.

Setiap malam, lampu redup menyorot wajah yang letih,
Ia menulis di buku, mencatat rasa yang tak terucap lirih.
Sunyi menjadi guru, mengajarkan kesabaran yang pahit,
Meski hati rapuh, ia tetap bertahan, menahan diri dari dunia yang sakit.

Angin membawa aroma bunga samar dari halaman,
Dinur menatap dan bertanya-tanya, apa di luar sana ada seorang teman ?
Namun rasa takut menahan langkah kaki yang rapuh,
Ia tetap di kamar, terperangkap dalam sunyi yang utuh.

Posting Komentar

Ninggalin Gema Rima?
Tautan ini akan membawamu beranjak dari Gema Rima, menuju dunia yang tak kami jaga. Yakin mau kesana?
- Geri OwlBert

Memuat..