Dalam sunyi kamar yang gelap ia termenung,
membiarkan luka masa lalu terus terhunjam dan terhimpun.
Pintu terbuka perlahan terdengar suara asing,
seorang gadis datang, langkahnya penuh iring.
Dinur menoleh dengan tatapan penuh bara,
ia melihat sosok asing berdiri di sana.
Ibunya berkata, "Ini anak sahabat lama,"
namun telinga Dinur menolak, hatinya menutup sama.
Mawar tersenyum, lembut menyapa,
"Perkenalkan, aku datang untuk menjengukmu apa adanya."
Dinur terdiam lalu wajahnya murka,
"Pergi! Kau sama saja dengan mereka semua!" katanya.
Ia bangkit, membanting kursi di samping,
suara berderak memecah suasana yang hening.
Mawar mundur, matanya terbelalak kaget,
namun bibirnya tetap menyungging senyum yang hangat.
"Dinur, aku tidak bermaksud melukaimu,"
ucap Mawar pelan dengan hati yang syahdu.
Namun Dinur menutup telinga,
merasa semua orang hanya ingin menyiksanya.
Tangannya bergetar, dadanya sesak,
trauma masa kecil membuatnya retak.
Ia melihat wajah Mawar seperti wajah lawan,
padahal gadis itu hanya membawa harapan.
Mawar menghela napas, menahan tangis,
melihat pemuda itu begitu tragis.
Namun ia tidak mundur meski ditolak,
karena hatinya tahu Dinur hanya butuh dirangkul erat.
Hari pertama itu berakhir dalam sunyi,
Mawar pergi dengan langkah berat, hati terluka sendiri.
Namun di matanya ada tekad yang nyata,
ia berjanji akan kembali membawa cahaya.
Dinur menutup pintu, duduk di sudut kembali,
dengan pikiran kacau, dihantui ngeri mimpi.
Ia menatap dinding seakan penuh bayangan,
padahal hatinya hanya terperangkap kesedihan.
Mawar berjalan pulang di bawah langit senja,
membawa doa agar Dinur suatu saat bisa terbuka.
Di dadanya tumbuh rasa iba membelenggu,
dan ia berniat untuk hadir lagi tanpa ragu.
Esok atau lusa, ia akan kembali,
mengetuk pintu hati yang masih tertutup rapat sekali.
Ia yakin di balik luka dan amarah yang pekat,
ada jiwa yang rapuh namun sebenarnya hangat.