Hari berganti dengan langkah yang sama,
Mawar kembali hadir membawa setangkai bunga.
Dinur terdiam, tatapannya redup membisu,
namun matanya terpaku pada bunga yang candu.
Bunga itu diletakkan di atas meja kayu,
menyisakan wangi lembut yang merasuk syahdu.
Tak ada kata yang keluar dari bibir Mawar,
namun hadirnya menenangkan, meski hanya sebentar.
Dinur tidak lagi mengamuk atau membentak,
ia hanya memandang dengan hati yang retak.
Tangannya gemetar menyentuh bunga perlahan,
seakan ada damai yang datang tanpa beban.
Ibunya mengintip dari celah kecil jendela,
menyaksikan keajaiban yang terasa begitu nyata.
Air matanya menetes tanpa suara,
melihat anaknya mulai tersentuh cinta.
Esoknya Mawar datang lagi,
membawa bunga mawar segar, indah berseri.
Dinur menunduk tapi tidak bergumam,
ia biarkan bunga itu menghiasi kamar yang temaram.
Dinding kamar yang dulu penuh bayangan,
perlahan ditemani warna merah keindahan.
Mawar meletakkan vas di meja sederhana,
membiarkan keharuman menyebar ke udara.
Dinur menatap, senyumnya samar,
tak ia sadari wajahnya berubah segar.
Mawar tersenyum melihat perubahan itu,
hati kecilnya berbunga, penuh haru.
Kehadiran Mawar menjadi benih penghiburan,
meski singkat, menghadirkan kehangatan.
Dinur mulai menunggu dalam diam,
seakan hatinya ingin menepis kelam.
Bunga demi bunga menumpuk di kamar,
menjadi saksi hari-hari yang mulai segar.
Tak ada percakapan panjang yang terucap,
hanya bahasa bunga yang terasa mantap.
Senyum pertama lahir tanpa ia sadari,
Mawar tertegun, hatinya pun berseri.
Ia tahu retakan hati dinur mulai sembuh,
meski kecil, itu tanda jiwa yang luluh.
Ibunya bersyukur dalam hening,
melihat anaknya perlahan meninggalkan sepi yang pernah mengiring.
Mawar duduk tenang, pandangannya tulus,
seakan berkata: “Aku akan tetap di sisimu, meski sulit dan jalannya tak mulus.”
Dinur menyentuh bunga, hatinya bergetar,
ia belum mengerti apa arti sabar.
Namun di dalam dadanya yang beku dan rapuh,
ada hangat yang tumbuh, meski sangat lambat dan keluh.
Hari-hari itu menjadi jembatan yang indah namun sunyi,
menghubungkan dua hati tanpa janji.
Mawar yang bersemi, bukan sekadar bunga,
tapi cahaya kecil yang menuntun jiwa.