Di sore itu, kau datang sebagai selimut hati,
membawa hangat sederhana yang tak pernah basi.
Dalam dunia yang sering berisik tanpa empati,
kau hadir diam-diam dan meredakan segala bising di hati.
Setiap suapan mie-mu seolah jahitan tenang,
mengikat retak-retak pikiranku yang hampir hilang.
Kuahmu mengalir seperti nasihat yang tak perlu kata,
cukup hangatnya saja sudah membuat dunia terasa nyata.
Dalam letih yang menyeretku tanpa henti,
kau menjadi alasan kecil untuk kembali berdiri.
Di antara duka yang bertebaran penuh luka,
kau tetap menjadi jeda yang paling mampu membuka.
Potongan ayammu selalu membawa kabar baik,
memulihkan mood seperti bensin penuh yang naik.
Sayur yang tersembunyi di bawahnya yang lembut,
seakan bilang, “Tenang, dari sini semuanya pulih pelan-pelan dan lembut.”
Ada harapan di setiap suapan yang singkat,
harapan yang tak perlu definisi rumit ataupun syarat.
Dan setiap aromamu yang menghangatkan,
menghapus beban seperti angin kecil yang mengelus ringan..
Di hari-hari saat kesedihan menolak pergi,
kau memberi ruang untuk napas kembali.
Di tengah kalut yang memadat di dada,
kau memberi jeda sederhana yang tak pernah berbeda.
Jika dunia tak mau bersahabat denganku lagi,
kau tetap setia menjadi pelukan tanpa janji.
Jika langkahku rapuh seperti kaca retak,
kau hadir sebagai tempat pulang yang tak pernah menolak.
Betapa sering kau memenangkan pertarungan batinku,
lebih hebat dari kata-kata motivasi yang kadang palsu.
Betapa sering kau mengembalikan arahku yang buyar,
lebih jujur dari janji-janji yang tiba-tiba pudar..
Terimakasih karena selalu hadir saat aku lelah,
tak pernah marah saat aku datang dalam keadaan runtuh dan menyerah.
Terimakasih telah hadir di dunia ini tanpa banyak bunyi,
cukup rasa, cukup hangat, cukup membuatku kembali berdiri.
Dan lagi, mie ayam masih memenangkan hati,
bahkan ketika dunia berubah bentuk dan sikapnya tak pasti.
Di semangkuk kecilmu aku menemukan kembali diri,
di suapan terakhirku aku tahu: aku masih hidup hari ini.