Di masa lalu, aku hidup penuh cahaya,
Kini tersisih, sepi di sudut yang tak berdaya.
Kenangan manis perlahan pudar dalam duka,
Namun mata kututup, tak ingin melihat luka.
Setiap langkah seakan tertinggal di belakang,
Tak kuhiraukan, biarkan hati ini meradang.
Masa lalu berbisik dalam bayangan yang gelap,
Tapi kubiarkan semua, biar kesedihan tak terungkap.
Tertutup rapat, kuabaikan kenyataan pahit,
Aku terjebak, antara rasa yang kian teririt.
Ingin kuberlari, tapi tak ada jalan keluar,
Perang batin membakar, menutup jiwa yang kian mengakar.
Pernah kupunya mimpi yang berkilau indah,
Namun kini yang tersisa hanya serpihan lelah.
Di setiap sudut, bayang itu terus memanggil,
Tapi kututup mata, tak ingin terlibat dalam pilu yang kian menggigil.
Masa lalu berputar, seperti film yang tak berakhir,
Namun setiap detik membuat hatiku semakin getir.
Tak lagi kupandang masa depan yang suram,
Karena perang batin ini tak henti menghantam dalam diam.
Kenangan yang manis kini jadi beban yang pedih,
Aku terjebak, tersisih, dan kian merintih.
Menutup mata dari setiap perih yang melanda,
Karena kutahu, kebenaran takkan mereda.
Walau hati ini ingin memeluk waktu yang berlalu,
Mata tertutup, kubiarkan semuanya bisu.
Meninggalkan hari-hari yang tak lagi bermakna,
Menutup diri dari rasa, biar semuanya sirna.