Di sungai jernih, ia berenang sendirian,
Sang ikan mas dengan kilau yang menawan.
Namun pesona itu bagai pedang yang tajam,
Menusuk relung hati, menciptakan jurang yang kelam.
Teman-teman menjauh, tak tahan rasa iri,
Berbisik dalam hati, menyimpan dengki.
Ia tak mengerti, apa salahnya dia?,
Ia hanya ingin berenang, mencari bahagia.
Tapi kesendirian kian mendalam di hati,
Membawa langkahnya menjauh dari tepi.
Ia menyelam ke dasar, meninggalkan riuh,
Di air yang pekat, hening dan bisu.
Di perairan gelap, ia temukan bayang,
Cerminan diri yang penuh rasa sayang.
Tak ada lagi yang menilai dari kilau,
Hanya ada jiwa yang lelah lusuh kacau balau.
Dalam sepi itu, ia temukan kekuatan,
Merajut dendam dalam tenang dan kesunyian.
Tak ingin lagi menjadi korban iri,
Ia siap melawan, meski sendiri.
Sosok penuh misteri datang menyambut,
Menerima keberadaannya tanpa takut.
Bersama-sama, mereka menyusun rencana,
Membalas dunia yang menciptakan luka.
Kini sang ikan mas kembali, dengan jiwa baja,
Mencari mereka yang pernah mendua.
Dengan kilau yang lebih tajam dari sebelumnya,
Ia berenang, siap memulihkan semuanya.