Aku menutup pintu pada wajah yang ramah,
Namun di balik senyum, ada bara tersulut marah.
Beban di pundak mendadak terhempas,
Namun hatiku bertanya: apakah ini balas?
Ia bukan musuh, tapi bukan pula kawan,
Hidupnya tumbuh dari tubuh yang lain.
Sekali kuusir, ia pun berjalan,
Mencari inang baru demi bertahan.
Aku merasa bebas, udara kembali jernih,
Namun inang barunya kini tampak letih.
Aku diam saja, pura-pura tak tahu,
Apakah diamku justru menjelma candu?
Ia menempel bagai bayangan samar,
Menghisap pelan, tak pernah benar-benar sadar.
Aku membiarkannya pergi tanpa suara,
Namun hatiku mengutuk sunyi yang sama.
Aku berdiri di garis abu-abu,
Tak jelas pahlawan atau penyulut pilu.
Apakah salah menjaga diri sendiri,
Jika akhirnya orang lain yang terganti?
Aku tersenyum getir, seolah benar,
Padahal jiwaku sedang terbelah dan gentar.
Apakah aku yang jahat si pengkhianat samar?,
Atau hanya manusia yang ingin bebas dari akar?
Ia datang bagai tamu tak diundang,
Menarik kursi tanpa memberi ruang.
Aku yang lelah memilih diam,
Namun diamku kini terasa kelam.
Aku ingin lepas, menata nafas,
Namun di belakang ada wajah yang lemas.
Kebebasanku berubah luka yang menjadi beban,
Bagaikan sumbu yang membakar perlahan.
Apakah aku pengecut berbalut sopan,
Ataukah pahlawan dengan tangan ketidakpedulian?
Aku menolak, tapi tetap merasa salah,
Aku berjalan, tapi hatiku resah.
Jika jahat berarti menutup telinga,
Maka akulah dalangnya yang berkuasa.
Namun jika baik berarti terus berkorban,
Bukankah itu jerat dengan atas nama teman?
Aku menatap kaca dan melihat aku lainnya,
Wajahku sendiri dan bayangan yang tua.
Yang satu tersenyum lega karena bebas,
Yang lain menunduk, menanggung balas.
Apakah aku seorang penjahat?,
Atau sekadar manusia yang penat?
Aku tak tahu, hanya bisu yang menjawab,
Membiarkan kata-kata terikat rapat tak mampu meluap..
Aku menolak tangan yang selalu meminta,
Namun hatiku diguncang rasa tak bermakna.
Apakah aku seorang penjahat di matanya ?,
Atau sekadar jiwa yang ingin merdeka?