Ia berdiri di ruang sunyi tak bernama,
Hanya detak waktu yang memeluknya hampa.
Tali tergantung bagai bisikan malam,
Menanti lelahnya untuk tenggelam.
Dunia terasa jauh, penuh kepalsuan,
Ia tak lagi mampu meraih tujuan.
Pekerjaan, cinta, keluarga, segalanya lenyap,
Meninggalkan luka yang tak dapat terungkap.
Ia mencoba membahagiakan orang yang ia cinta,
Namun semua usaha hanya berbuah luka.
Di mata mereka, ia tetaplah cela,
Hingga ia pun hilang tanpa gema.
“Jika hidup hanya beban yang kupikul,”
Bisiknya dalam tangis yang terpikul.
“Lebih baik kulepas segala derita,
Menyerah pada akhir yang membawa lega.”
Dalam pikirannya, tiada lagi warna,
Hanya kelam yang menghapus segala cerita.
Ia menggenggam tali dengan jemari gemetar,
Melihat ke atas, ke langit yang pudar.
Semesta seolah menyambut kepasrahannya,
Membisikkan akhir dari segala lelahnya.
Air matanya jatuh di lantai yang dingin,
Hingga tubuhnya mengayun dalam angin.
Tak ada lagi rasa, hanya keheningan,
Semesta memeluknya dalam kesunyian.
Di sana, ia menemukan jeda yang ia cari,
Namun sekaligus akhir yang tak dapat terhindari.
Ia kini menjadi bagian dari malam,
Ditelan oleh gelap yang begitu dalam.
Semesta menangis, namun tiada suara,
Hanya diam, menguburnya dalam hampa.
Di sudut dunia, hidup terus berjalan,
Namun di hatinya, segalanya telah usai ditelan.
Ia menyerahkan segalanya pada keabadian,
Menutup kisahnya dengan jeda yang tak berkesudahan.
Tamat.